[hipotesis saya] Gaya makan dan sariawan yang berulang

Jika ditanya keluhan kesehatan apa yang saya miliki, maka saya menjawab “sariawan” Benar sekali, luka kecil di dalam mulut adalah langganan buat saya hampir setiap bulan. Namun, dibeberapa kesempatan saat mendengar obrolan antar teman sejawat terkait sariawan, saya masih patut bersyukur karena memiliki sariwan “terindek” masih bersahabat. Katakanlah si Awan, seorang junior saat masih kuliah S1 dahulu pernah bercerita bahwa ia sering sekali merasakan keluhan sariawan berindek tinggi dan parah. Sariawan telah menjadi bagian cerita migguannya. Tidak seperti saya, sariawan yang bertamu ke mulutnya bisa menyebabkan gangguan yang cukup serius ketika mengunyah makanan. Sariwannya besar sehingga Awan merasakan hal yang tidak nyaman di mulutnya, perih! Memang kadang saya temukan sariawan si Awan unjuk penampilan kepada para mahluk di luar mulut berupa sosok putih basah yang merembet hingga kesisi luar bibir. Secara sekilas, tak jarang fisik sariawan memberikan kesan bahwa bibir si Awan sedang robek. Duh…..ngilu juga membayangkannya.

Logika sederhana tentang kemunculan sariawan di dalam mulut seseorang adalah karena kekurangan vitamin C. Bukan kapasitas saya untuk menjelasan makna defisit vitamin ini secara rinci. Memang sih, dalam beberapa kasus menangani ketidaknyamanan perasaan akibat kehadiran sariawan, saya berikhtiar mengusir luka mulut ini dengan mengkonsumsi vitamin C sintetis bak makan permen setiap harinya lebih dari 500 mg. Bahkan bisa sebanyak 3 tablet yang berarti dosisnya mencapai 1500 mg perhari (dikemudian hari saya mengetahui bahwa perbuatan mengkonsumis vitamin C kebanyakan seperti ini adalah sia-sia dan tidak perlu dicontoh). Alhasil, memang bisa terjadi penyembuhan lebih cepat dibandingkan jika tidak mengkonsumsi vitamin C.  Artinya secara praktik memang ada hubungan antara mengkonsumi vitamin C dengan laju kesembuhan sariawan. Tetapi yang unik, tak jarang justru sariawan saya tiba-tiba nongol di saat saya asyik-asyiknya mengkonsumi vitamin C terutama yang alami (saya termasuk orang yang berfikir 1000 kali bila harus mengkonsumsi produk-produk makanan pabrikan) Dan kebanyakan biasanya adalah buah jeruk. Nah loh, jadi kontradiksikan?

Penasaran dengan fakta di atas akhirnya saya #berhipotesis, jangan-jangan kemunculan sariawan pada saya adalah lebih karena faktor mekanik ketimbang perkara nutrisi. Maksud faktor mekanik dalam hal ini apa? saya berfikir, mungkin saja ada senyawa dalam bahan makanan yang saya konsumsi bersifat keras olehnya dapat menyebakan luka pada sisi dalam mulut? Keras dalam konteks ini adalah terkait kandungannya, bukan fisik si bahan makanan. Sejauh ini memang hipotesis ini dapat diterima, namun belum ada pembuktian lebih jauh. Jadi bisa disimpulkan #hipotesis ini lemah!

Saat mengikuti ajang seleksi sebuah program tingkat nasional, kebetulan ada beberapa peserta seleksi yang berprofesi dokter. Saya gunakan momen pertemuan itu untuk berdiskusi soal keluhan sariawan. Dari konsultasi di atas mobil pick up bak terbuka menuju sebuah desa tetangga BSD yang bernasib kontras dengan tetangganya itu, saya dapat menyimpulkan memang sebenarnya sariawan tidak hanya secara tunggal terkait soal kekurangan vitamin C saja. Ada kajian lain yang mungkin menjadi jawaban untuk kasus saya. Sayang sekali, konsultasi kala itu tidak berujung hingga akhir yang paripurna sebuah konsultasi kesehatan. Alih-alih saya menemukan secercah jawaban atas kepenasaran saya soal sariawan, justru obrolan kami meluas menyambar topik yang karena keunikannya mengalahkan topik utama yang saya gagas: ternyata si ibu dokter memiliki keluhan lebih langka dari saya yaitu keluhan psikis trauma terhadap ayam….hahaha…pis ya bu dokter! ternyata selain dagingnya yang enak sebagai teman makan dan upin ipin, ayam juga bisa menjadi cerita mimpi buruk bagi seseorang dari tinjauan ilmu psikologi🙂

#Hipotesis saya soal sariawan yang saya miliki terus berkelana mencari titik sandarnya, belum kunjung terang! Hingga beberapa bulan terakhir saya meilhat sedikit peluang jawaban yang sebeneranya berdiri diatas landasan teori yang sebelumnya saya yakini yaitu penyebab sariawan saya lebih pada proses mekanik. Keyakinan lain saya soal bahwa sariawan yang menjadi langganan saya tersebut secara tidak sengaja diundang oleh gaya makan saya yang amat cepat ketika mengunyah makanan. Asumsinya material kasar makanan yang masuk ke mulut memiliki tekstur yang amat beragam. Jika ditumbuk dan dibolak-balik dengan serampangan maka bisa memberikan peluang tekstur kasar makanan melukai sisi dalam diding mulut. Pernah suatu waktu, meski berlangsung singkat akibat tingkat konsistensi yang rendah, saya mulai mengatur cara mengunyah dan membatasi volum maksimal makanan yang masuk ke dalam mulut. Meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama untuk proses makan, ikhtiar ini cukup memberikan efek positif terkait sariawan. Hal yang disayangkan adalah ternyata mengubah cara makan tak semudah membalikan telapak tangan, saya hanya mampu bertahan sebentar saja melakukan proses makan yang lebih teratur tersebut. Dengan demikian saya belum memiliki data yang cukup kuat bahwa ada hubungan yang erat antara cara mengunyah makanan dan kehadiran sariawan. Akhirnya, #hipotesis saya tentang sariawan masih tetap lemah. Selain membutuhkan literatur yang lebih kuat, saya juga membutuhkan kekuatan untuk menghadirkan komitmen agar mampu melakukan pola konsumi sehat secara lengkap hari ini dan selanjutnya.

#salam berhipotesis! salam dari saya yang sekarang masih sariawan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s