Beberapa kerusakan ada hikmahnya

Setelah mendapat musibah kerusakan motor yang terbilang cukup serius, saya memutuskan untuk lebih banyak di rumah. Karisma baru saja rusak 2 hari yang lalu. Kejadian kerusakannya cukup heroik dan bernilai kebermanfaatan yang tinggi. Dua hari yang lalu saya dikunjungi tamu jauh. Seorang junior penerima beasiswa Presiden yang sedang galau menunggu hasil lamaran calon istri, eh salah, lamaran sekolah benarnya, Beliau datang dari Semarang, namun sempat transit beberapa hari di Palmerah Jakarta untuk bermukim dan hijarah sesaat ke Pondok Indah guna mengikuti tes IELTS. Luar biasa perjuangan bujangan high kualiti ini untuk bisa melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. Semoga doi kelak menjadi ekonom syaria yang handal. Nah kembali ke Karisma, si Karisma rusak saat saya dan tamu pulang dari bengkel untuk menginapkan si Kijang yang sudah beberapa bulan lalu penyok bodinya akibat intruksi “pak ogah” jalan belakang kampus IPB yang ngasal. Mumpung lagi ada rezeki, si Kijang langsung masuk salon untuk dipermulus. Selagi ada tamu yang bisa membawa motor ke bengkel sementara saya menunggangi Kijang maka tamu ditodong langsung untuk menemani saya sebentar ke bengkel beberapa saat ketika doi baru saja sampai di rumah. Memang ajaib sekali tuan rumah seperti saya. Tamu jauh bukannya disuguhi jamuan, eh malah ditodong untuk beramal. Ups, justru bagus dong ya? (kembali mikir) Tuan rumah yang baik itu memuliakan tamu dengan membuka peluang beramal sebesar-besarnya. Hahahaha. Gak jugalah, tamu yang berkunjung memberikan testimoni tulusnya akan kualitas jamuan keluarga kami yang prima saat pamit pulang setelah menginap sehari. Berulang-ulang tamu mengutarakan ucapan terima kasihnya atas pelayanan kami selama doi berada di Bogor. Tak sepi juga doi melempar pernyataan undangan untuk saya dan istri, berkenan kiranya main ke Semarang jika ada rezeki dan waktu. InsyaAllah bor. Jangan bosan berkunjung dan hati-hati di perjalanan ketika beliau meninggalkan kediaman saya di suatu pagi menjelang siang.

Lepas urusan administrasi rawat inap Kijang, sempat terbesit di hati ingin sekali menemani tamu ke gedung alumni IPB di Bogor kota untuk mencari bibit pepaya. Namun, cerita langsung berubah ketika saya tiba-tiba merasa ada yang aneh dengan roda motor saat kami baru saja sampai jembatan Bubulak menuju rumah di Laladon dari bengkel mobil yang berlokasi di Salah Benda. Runut sekali rutenya. Melongok ban ke belakang motor, alamak ban luar si Karisma retak rata hampir di seluruh permukaan. Kalo melihat kondisi fisik ban luar sudah demikian serius, tak perlu berharap banyak untuk ban dalam meskipun baru saja diganti beberapa bulan yang lalu. Saya langsung membayangkan nominal yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki kerusakan tak terduga ini. Baiklah, ini adalah ketentuan Allah, sementara saya tak boleh merespon kejadian ini dengan mengedepankan mental orang sulit kaya, maka saya hanya bisa beristighfar tanpa harus terlalu berlarut-larut tenggelam dalam cairan otak untuk mulai menghitung-hitung nominal pengeluaran bulan ini yang sudah pasti akan membengkak. Santai, duit itu datangnnya dari Allah. Dia menimbulkan sebab banyaknya debit yang keluar, insyaAllah Ia juga yang menciptakan musabab akan banyaknya uang yang datang. Bismillah.

Sehari sebelum si tamu berkunjung, laptop terbaru saya juga mengalami “sakit” mendadak. Sebelum menjemput istri yang sedang kursus bahasa di bilangan Yasmin saya asik berinteraksi dengan laptop. Saat waktu penjemputan mulai dekat, saya segera bersiap dan mengubah posisi aktif laptop ke mode tidur. Sekembali dari tempat kursus, saya berniat aktif berinteraksi dengan laptop lagi, Eh..tiba-tiba beberapa tombol keyboard laptop ngadat. Usaha merestart laptop berulang-ulang saya lakukan. Saya berharap cemas terjadinya keajaiban: tombol yang ngadat kembali aktif. Bolak-balik usaha itu saya lakukan. Namun sayang, apa yang diharapkan tak kunjung terjadi, maka akhirnya saya putuskan untuk mengemas laptop dan beranjak ke pembaringan untuk tidur. Dalam beberapa kejadian, tidur adalah langkah paling aman dan mujarab untuk mencegah datangnya perasaan negatif dalam diri ketika permasalahan datang tanpa diudang. Tapi tak selalu juga tidur menjadi jalan keluar terbaik. Alhasil, keesokan hari saya menemukan fakta bahwa kasus ngadatnya tombol keyboard yang terjadi pada laptop istri jauh lebih baik ketimbang kasus laptop saya karena dalam kasus laptop istri, keyboard mogok tiba-tiba menjadi normal kembali setelah semalaman diistirahatkan. Sedangkan untuk kasus saya, ceritanya berbeda. Mungkin ini adalah contoh nyata bahwa amal perbuatan mempengaruhi nasib seseorang. Saya kudu masuk ke ruang gelap dan mengunci pintunya dari dalam untuk melakukan proses kontemplasi serius seprtinya. Ada sih perasaan ingin teriak dan frustasi membayangkan nominal yang akan disisikan untuk urusan ini. Lagi-lagi saya berfikir dan bertekad pad diri, tak boleh menumbuhkan mental miskin karena merasa terlalu menderita kehilangan sejumlah nominal uang yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ini belum seberapa, demikian saya berusaha bertahan di jalan orang-orang yang berfikir positif. Allah tidak akan menguji seseorang di luar batas kemampuannya.

Sempat kesal juga ketika istri memberikan komen lepas terkait kejadian yang saya alami beberapa hari terakhir. Beliau bilang dengan suara mengantung “Mengapa banyak sekali yang rusak ya….? Jengkel sih mendengar kalimat belum selesai itu. Padahal belum tentu maksud istri di balik kalimat tak utuhnya itu sama dengan dugaan saya. Baiklah, ini menjadi indikasi bahwa saya masih belum naik kelas dalam hal berbaik sangka pada keadaan. Namun saya kembali mencuri waktu untu merenung, ketika kita ingin bersabar dan berusaha mengamalkan sebuah kebaikan secara konsisten, apakah kemudian tidak akan ada ujian? Berjalan mulus-mulus saja? Saya teringat sebuah pesan dalam Al quran tentang pertanyaan Allah kepada manusia seputar keimanan. Apakah kita akan dibiarkan begitu saja mengaku beriman sebelum diberikan ujian atas keimanan kita tersebut? Sudah pasti tidak! Saya mencoba membangun prasangka baik atas apa yang sedang saya alami. Ini adalah ujian untuk mengokohkan langkah saya selanjutnya. Ini kesimpulan saya di akhir semua kejadian ini.

Kembali ke tamu di pembukaan tulisan ini, kesan dan komen pertama saat kami bertemu, mana kala saya membuka tabir jendela sesaat sebelum menggeser daun pintu mempersialhkan doi masuk adalah rasa heran atas kelingking tamu yang terlihat sedikit miring dan dilumuri bekas luka yang belum kering sempurna. Dari rasa heran maka muncul pertanyaan apa gerangan yang terjadi. Ternyata tamu saya baru saja mengalami kecelakaan motor yang cukup serius sekitar 3 minggu sebelum ujian IELTS. Dari perjalanan pulang mengajar, di sebuah perjalanan arteri dari kampus menuju rumah, tiba-tiba ada sebuah motor yang memotong jalur beliau dari arah berlawanan. Naasnya, karena ini adalah jalan arteri yang sepi, sahabat saya sedang berada pada kecepatan standar jalanan sepi. Tidak terlalu ngebut juga. Tapi yang namanya gaya konstanyang dipaksa berhenti akan menghasilkan gaya dorong yang cukup kuat. Junior saya terlempar cukup jauh. Bahkan beliau baru sadarkan diri setelah berada di rumah sakit. Uniknya berita itu tak terdengar sama sekali padahal kami berada salam satu grup kelompok WA. Kelompok persiapan bahasa yang masih aktif tegur sapa mesti proses kursus telah berakhir. Saya kira kabar dan kondisi musibah yang beliau hadapi cukup relevan dengan alasan hadirnya kelompok WA tersebut. Memudahkan proses persiapan bahasa dan IELTS kami agar sesuai dengan persyaratan pendaftaran universitas 50 dunia. Sepertinya saya harus melakukan sesuatu. Terlepas dari itu semua, saya memiliki kecurigaan bahwa ada sesuatu yang Allah ingin saya petik dari beberapa kejadian yang saya hadapi beberapa hari ini. Allah ingin saya lebih banyak melihat ke dalam diri. Lalu segera melihat ke luar dengan cara pandang luas dan hati yang peka. Dan terakhir Allah ingin menguji seberapa besar kadar kepercayaan saya kepadaNya untuk menemukan solusi atas beberapa kejadian yang sedang saya hadapi. Well. Allah maha kaya dan tahu atas segala yang terjadi. Tugas saya? Tetap menjalani semua dengan keyakinan bahwa apa yang sedang berlaku adalah keadaan terbaik untuk kehidupan saya. Ketika junior saya mampu menata sikap saat menghadapi sesuatu yang belum tentu saya siap meledeninya, maka saya wajib bersyukur bahwa saya masih dipilihkan ujian yang memang insyaAllah saya sanggup memanajemennya. InsyaAllah, lepas mendung akan datang langit yang terang.

Laladon, Jumat berkah 17 April 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s