Kritik dari Jerman untuk gaya makan orang kebanyakan yang nyeleneh

Mulai dari meja pedagang kaki lima di kawasan pujasera tak berkelas, di atas meja kantin-kantin seputar kampus hingga sebuah meja di acara prestisius penganugerahan kompetisi ilmiah dan beasiswa bergensi yang dipenuhi warga tak “biasa”, saya menemukan fenomena menarik beberapa tahun terakhir. Pandangan mata itu terkait dengan gaya makan orang Indonesia kebanyakan dan tak mengenal apakah mereka termasuk golongan terpelajar atau tidak. Gaya makan yang saya maksud adalah menyisakan makanan dengan sengaja.  Dahulu yang saya pahami, menyisakan makanan hanya dilakukan oleh anak-anak kecil yang biasanya tidak mengambil makanannya secara mandiri, melainkan diambilkan para orang tuanya. Atau makanan yang tersisa hanyalah, remahan atau sisa makanan yang tidak semua orang mau memakannya, misal kepala ikan,  tulang, potongan rempah dll. Hari ini sama sekali berbeda. Dibanyak kesempatan saya tak jarang menemukan kadang “sisa” makanan itu hampir bisa menjadi satu prosi makanan layak makan untuk orang lain andai tak diambil tangan tak bertanggung jawab. Saya sempat bingung dengan gaya makan seperti ini. Saya sering juga berfikir dalam benak sendiri, jika mereka tak sanggup menghabiskan makanan di dalam piring mereka, mengapa mengambilnya? lebih lucu dan membingungkannya, Gaya makan demikian dengan mudah ditemui di acara jamuan prasmanan yang nota bene semua undangan diberikan hak istimewa untuk mengatur sendiri apa dan seberapa banyak makanan yang ingin mereka ambil. Logikanya, jika meraka diberikan kesempatan untuk mengatur sendiri makanan yang akan mereka nikmati, lantas mengapa mereka masih saja membiarkan makanan merana meratap ditinggal pergi di atas piring2 bekas makan mereka. Ini bisa saja terjadi, jika mereka sudah tak peduli bahwa yang mereka lakukan adalah perbuatan tak tepuji. Atau justru dalam konteks ini, kebanyakan dari kita ketika makan tak lebih hanya menggunakan logika dan kemampuan sekelas anak kecil yang belum bisa memanajemen makanannya sendiri, atau jika lebih parah (praduganya) ya mereka hanya memiliki kemapuan otak sekelas mahluk berkaki empat yang belum dilengkapi bagian neo-korteks dalam paket otaknya untuk mengendalikan diri dalam urusan makan.

Dibeberapa kesempatan saya mencoba mengkampayekan, “ambillah makan secukupnya”. Jadikan makan dengan tuntas sebagai niat sebelum kita memutuskan untuk mengambil makanan. Dengan demikian diharapkan kita akan mempertimbangkan kemampuan dalam menghabiskan makanan sebelum tangan menjadi begitu ringan menggerakan sedok dari satu hidangan ke hidangan yang lain. Dan yang terpenting, jangan lupa membaca bismillah, bagi rekan yang muslim, agar proses makan kita tak ditunggangi setan.

Saya teringat dengan hukum tak tertulis dalam keluarga kami saat masih kanak-kanak dahulu. Bapak selalu mendengungkan titahnya, “jangan pernah sekali-sekali kalian makan tersisa. Jika berani akan bapak masukkan ke dalam telinga. Kita harus menghargai makanan, karena banyak sekali orang yang kelaparan di luar sana” Pernyataan plus mimik muka bapak yang “menyeramkan” saat mendeklarasikannya cukup berkesan buat saya. Sehingga gaya makan yang tak pernah menyisakan makanan menjadi bagian hidup saya. Terakhir saya mendengar gurauan dari kolega bahwa budaya makan bersisa ini uniknya memiliki subjek yang besar dari kalangan wanita. Hipotesisnya sih, mereka lakukan itu untuk membangun image bahwa mereka tidak rakus. Sosok individu yang makan sedikit  dst. logika yang dipaksakan itu membiaskan fakta yang ada, jika mereka dalam bertindak mengambil makanan saja sudah gagal bagaimana mereka tidak bisa dinilai rakus?. justru level rakus mereka masuk kategori parah karena mereka  dikendalikan oleh perasaan lapar mata yang mengagalkan fungsi kerja otak dalam menakar ukuran real makanan yang mereka mau dan sanggup habiskan. Saya sendiri menilai bahwa sikap demikian benar-benar tak rasional, jangan-jangan pelaku gaya makan demikian sudah masuk level terganggu psikologisnya. entahlah.

Saya menemukan sebuah tulisan dengan gaya tutur naratif terkait dengan pengantar saya di atas di grup sosial media bernama Ikatan Alumni IPB. Semoga cerita yang lebih konkrit ini bisa memudahkan kita memetik hikmah. Meskipun jika mau lebih peka, cerita yang mampu mengubah gaya hidup gak jelas dalam mengkonsumsi makan itu, bertaburan tak terhitung dengan jari dapat kita temukan di sekitar kita dengan mudah. Kalo mau meluangkan waktu sedikit saja untuk memahami komunitas beberapa pintu dari rumah tinggal kita atau jalur kita menuju kantor, akan banyak sekali kita menemukan fakta menyedihkan bahwa tak pantas lagi kita menjadikan makan bersisa sebagai bagian dari gaya hidup kita. Brade dan sista, banyak sekali orang di luar sana yang tak bisa makan dengan layak. Bahkan tak jarang mereka telah mengurung rasa malu mereka dalam ruangan gelap, sehingga tak lagi sungkan mengais sisa-sisa makanan dari restoran fast food atau apa pun hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka bertahan hidup. belumkah kita menyepakati jika gaya hidup menyisakan makan adalah pebuatan keji? Kejam, ya kejam sekali, karena kita membiarkan orang bebuat nista sementara kita menyia-nyiakan dengan begitu mudah apa yang mestinya bisa kita bagikan ke mereka. Maka tak salah jika sifat mumbazir adalah sifat seorang sohib setan dalam padangan agama islam. Iya, apalagi sebutan yang pas selain berjiwa setan untuk sosok manusia yang dengan sengaja merusak nilai kepantasan makanan untuk dikonsumsi orang lain dengan layak sementara ada ratusan orang masih kelaparan disekitarnya.

berikut ini tulisan yang saya nilai sangat pantas untuk dibagikan kepada sesiapa saja yang ingin menjadikan hidupnya lebih berarti dan baik dari hari ke hari. Mari berubah, karena tak ada kata terlambat.

_______________________________________________________

Uang dan Sumberdaya Alam

diposting oleh Prof. Khairul Anwar.

Saya salin pesan dari grup wA berisi suatu artikel menarik yang ditulis oleh warga Indonesia yg sedang berkunjung ke Jerman. Ini bagus untuk dibaca oleh alumni IPB, suatu perguruan tinggi yang lingkup keilmuannya paling dekat dengan sumberdaya alam. Kalau ada yg sudah pernah membaca artikel ini tolong jangan marah tapi tetap berpikir positif saja: masih ingat status saya tentang “positive thinking”?

========== Jerman adalah sebuah negara industri terkemuka. Di negara seperti ini banyak yang mengira warganya hidup foya2.

Ketika kami tiba di Hamburg, kami bersama rekan2 masuk ke restoran. Kami lihat banyak meja kosong. Ada satu meja di mana sepasang anak muda sedang makan. Hanya ada 2 piring makanan dan 2 kaleng minuman di meja mereka. Kami bertanya dalam hati apa si pemuda tidak punya uang atau dia seorang yg kikir karena hanya membeli sedikit makanan. Kemudia ada beberapa wanita tua yg ketika makanan dihidangkan jumlah piring dan gelas sama dengan jumlah orangnya.

Karena kami sangat lapar kami memesan banyak makanan. Hasilnya bisa ditebak banyak makanan sisa yg tidak kami makan. Ketika kami hendak meninggalkan restoran, wanita tua yg ada di meja sebelah menghampiri kami. Dia merasa tidak senang dan menegur kami karena memubazirkan makanan. Rekan kami mengatakan bahwa itu makanan dia yg bayar dan tidak ada hubungannya dengan dia. Wanita itu lalu menelepon seseorang dan tak lama kemudian datang petugas dari Sekuritas Sosial datang dan mendenda kami sebesar 50 euro (kira2 Rp 750.000). Kami semua terdiam tak percaya.Lalu petugas itu berkata dengan suara yg galak ” PESAN HANYA YANG SANGGUP ANDA MAKAN. UANG ITU MILIKMU TAPI SUMBER DAYA ALAM INI MILIK BERSAMA. ADA BANYAK ORANG LAIN DI DUNIA YG KEKURANGAN, KALIAN TIDAK PUNYA ALASAN UNTUK MENSIA-SIAKAN SUMBER DAYA ALAM TERSEBUT.

“Kami semua malu. Kita ini dari negara yang tidak makmur-makmur amat. Tapi demi gengsi kita sering pesan banyak dan sering berlebihan dalam menjamu orang.

Pesan moral :MONEY IS YOURS BUT RESOURCES BELONG TO THE SOCIETY. Jadi kawan2 mari kita mengurangi pemubaziran karena “uang memang milikmu,tapi sumber daya alam itu milik bersama.” THINK AGAIN !! ==========

Selamat pagi, selamat beraktivitas di hari Selasa, jangan pernah putus asa..

______________________________________________________

demikian tulisan ini saya teruskan. semoga bermanfaat dan kita bisa mengambil pelajaran darinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s