“Forum Berbagi Inspirasi dan Karya” di Kota pintu masuk menuju sepotong tanah syurga Orang Utan

IMG_20150807_101634

Saya memiliki agenda kerja ke Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) pada tanggal 6-11 Agustus 2015. Menurut saya pribadi, agenda ke kelapangan kali ini memiliki kesan yang jauh dari suasana sedang bekerja. Sebaliknya, saya merasakan hari perhari di lapang tak ubahnya sebuah petualangan ala Indiana Jones yang selalu mengundang rasa penasaran dan takjub sehingga makin membuka mata akan sebuah kenyataan bahwa Indonesia itu memiliki alam alamiah yang super keren! Subhanalah! Dengan demikian, tak berlebihan kiranya para pengelolah paket tour TNTP menampilkan sebuah kalimat yang saya rasa cocok menggambarkan kondisi TNTP itu sendiri. Tulisan itu dapat kita temui saat memasuki darmaga kecil yang berlokasi di belakang kantor TNTP di Kumai. Sebelum masuk ke darmaga kita akan melewati sebuah ruangan untuk para wisatawan berfoto dengan latar belakang wall cover berdesain nuansa etnik yang ciamik dan bertuliskan “TNTP sepotong tanah syurga”

The piece of paradise! the home of Orang Utan
The piece of paradise! the home of Orang Utan

Saya dan tim menghabiskan waktu di lapang selama 3 hari saja. Hari pertama kami gunakan untuk meeting singkat dengan pihak TNTP di kantor pusat Pangkalan Bun. Demikian satu setengah hari terakhir, kami kembali menghabiskan waktu di Hotel Mahkota sembil menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kecil yang masih belum terselesaikan ketika masih berada di lapang. Dihari terakhir, tanggal 11 saya memberanikan diri melakukan sesuatu yang sempat terpikirkan oleh saya saat melihat anak-anak Pangkalan Bun berjalan penuh keceriaan baik sendiri maupun dihantarkan kerabat menuju sekolah mereka masing-masing di suatu pagi. Rencana ini sebenarnya tidak tergolong aktivitas baru. Rencana ini hanya berupa pengulangan aktivitas sosial rutin saya mana kala saya pulang ke kampung halaman, Curup Bengkulu. Rencana yang dimaksud adalah masuk ke dalam kelas adik-adik SMU dan memberikan mereka motivasi bahwa sukses itu (insya Allah) hak  semua orang dalam kontek pendidikan. Mengapa demikian? karena hakikatnya setiap anak memiliki potensi keunggulan mereka masing-masing dan dengan semakin majunya zaman, terbuka banyak sekali peluang dana yang mampu mengantarkan anak-anak tersebut mencapai kesuksesan di bidang yang mereka sukai. Era zaman baru kini berhasil mengenyampingkan faktor keterbatasan ekonomi dalam urusan peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Persoalan informasi yang tersebar rata dan daya juang personal siswa justru menjadi tantangan terbesarnya!

Setelah merasa matang dengan rencana yang akan saya eksekusi secara solo. Maka di hari terakhir saya di Pangkalan Bun, saya dengan sengaja keluar dari kamar hotel lebih awal dari hari sebelumnya. Dengan berpakaian olah raga saya menyengaja melakukan survey lokasi sekolah terdekat dari hotel. Tanpa berbekal informasi yang cukup saya memilih objek survey secara acak. Keluar hotel saya memilih berbelok kiri. Ketika menemukan ada gang kecil saya berbelok menyusurinya. Ternyata gang masih sepi dan saya memutuskan untuk putar balik kembali menuju jalan utama. terus saya susuri jalan hingga sampai di ruas jalan yang berada di depan komplek Istana Kuning. Saya melihat satu pelajar SMU sedang berjalan sendiri. Siswa laki-laki ini mengundang rasa ingin tahu saya sehingga memutuskan untuk mengikutinya. Siswa ini menarik dalam pandangan saya karena ia berjalan kaki seorang diri semetara kebanyakan siswa dari berbagai jenjang terlihat lalu lalang berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motor atau angkot kuning. Saya teringat kakak perempuan yang dahulu terbiasa berangkat ke sekolah dengan berjalan kakia agar bisa menabung. Padahal jarak tempuh rumah kami dan sekolahnya cukup jauh. Dia lakukan secara konsisten meskipun menjadi kelompok minoritas. Persis apa yang saya lihat atas anak laki-laki tadi.

Gedung SMU 1 Pangkalan Bun
Gedung SMU 1 Pangkalan Bun

Saya ikuti siswa tersebut. Cukup jauh perjalanan yang kami tempuh. Menyebrang jalan, memasuki dua kali gang kecil diantara pemukiaman hingga sampai bertemu sebuah bangunan yang cukup megah untuk kelas kota kabupaten. Tanpa diharapkan sebelumnya, si siswa tadi menjadi pengarah saya untuk berkunjung ke sekolah unggulan Kalimantan Tengah menurut Kalteng Pos, 6-6-2012. Begitulah SMU 1 Pangkalan Bun adalah smu favorit di Pangkalan Bun. Sebelum siswa itu bergegas masuk ke gerbang, saya memanggilnya dan mengutarakan rencana saya kepadanya. terlihat sedikit terkejut karena tiba-tiba ditanya sebuah pertanyaan tidak lazim dari sosok tak dikenal, anak itu menunjuk sebuah mobil merah yang sedang parkir tak jauh dari lokasi kami berdua. Darinya saya tahu jika pengemudi mobil tersebut adalah salah satu guru di SMU 1. Saya mengucapkan terima kasih kepada murid SMU itu dan bergegas menemui si Ibu guru bermobil merah. Singkat cerita saya diperkenankan kepada sosok guru yang memang ditugaskan untuk mengurus semua persoalan terkait usaha siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.  Beliau adalah pak Bahrudin. Secara kebetulan lelaki yang dilahirkan di Tulung Agung itu sudah terbiasa memfasilitasi alumni sekolah yang sering melakukan promosi universits dimana mereka sedang menempuh pendidikan. Maka tak heran ketika saya mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan saya, pertanyaan pertama yang beliau ajukan adalah “apakah kamu alumni smu ini?” bagi saya pertanyaan tersebut sangat wajar. Setelah terlibat obrolan mulai dari kadar ketertarikan 0 hingga perlahan namun pasti meningkat menuju persentase yang diharapkan. Maka kemudian dari obrolan tersebut saya diberikan ruang dan kesempatan untuk melaksanakan Forum Berbagi Inspirasi dan Karya di hadapan anak kelas XII ipa dan ips. Setelah menyepakati waktu penyelenggaran program. Saya segera mohon diri untuk kembali ke hotel dan mempersiapkan diri. Kami berjanji untuk kembali bertemu sekitar jam 9 pagi.

Saya senang dengan penerimaan yang baik oleh pihak sekolah. Saya kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Saya baru menyadari jika jarak antara hotel dan sekolah cukup jauh. Karena tak mau kembali basah oleh keringat saat kelak berhasil ke sekolah untuk melakukan sharing inspirasi maka saya berusaha menemukan cara paling efisien untuk mencapai sekolah. Saya memulai ikhtiar dengan bertanya basa-basi kepada petugas penjaga sarapan pagi hotel seputar moda transportasi yang mungkin digunakan bila saya ingin pergi ke smu 1 Pangkalan Bun. Setelah bertanya maksud dan tujuan saya ke sekolah. si penjaga sarapan pagi justru menawarkan motornya secara gratis. Wow…ternyata banyak juga orang baik yang turut peduli dengan dunia pendidikan kita. Tanpa banyak diskusi saya menerima tawaran baik beliau. Maka sampailah saya kembali ke sekolah sebelum jam 9. Saya bertemu guru piket dan diajak untuk duduk di ruang tunggu sembari menunggu waktu penyelenggaraan program forum inspirasi. Waktu menunggu saya manfaatkan untuk melihat aktivitas siswa di lapangan yang kebetulan berlokasi di depan ruang tunggu.

Anak-anak terlihat sedang melakukan aktifitas olah raga. Tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Seakan baru minggu kemarin saya masih menjadi salah satu dari sekian banyak siswa Indonesia melakukan kegiatan yang sama. Dulu kegiatan ini menjadi favorit kebanyakan siswa karena pelajaran Olah Raga menjadi salah satu kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan siswa keluar kelas di jam aktif belajar. Memang tidak dapat dipungkiri, variasi metode belajar sangat membantu peserta didik agar tak kehilangan antusias terhadap opises belajar itu sendiri.
Anak-anak terlihat sedang melakukan aktifitas olah raga. Tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Seakan baru minggu kemarin saya masih menjadi salah satu dari sekian banyak siswa Indonesia melakukan kegiatan yang sama. Dulu kegiatan ini menjadi favorit kebanyakan siswa karena pelajaran Olah Raga menjadi salah satu kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan siswa keluar kelas di jam aktif belajar. Memang tidak dapat dipungkiri, variasi metode belajar sangat membantu peserta didik agar tak kehilangan antusias terhadap opises belajar itu sendiri.

Ruag tunggu sekolah ini pun bercerita banyak tentang prestasi yang mereka miliki melalui jajaran piala yang dipajang rapi. Alhamdulillah sebentar lagi saya bisa memberikan nilai lebih pada perjalan kerja kali ini.  Saya suka sekali berbagi dan saya memandang bahwa hal yang dapat di bagi itu tidak melulu tentang uang. Kita dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat dari apapun yang saat itu kita miliki. Sekecil apapun itu. Selama ia baik dan dibagi dengan niat yang baik pula maka ia akan memberikan efek paling baik kepada pihak yang mengeluarkan maupun yang menerima.

Jajaran piala yang banyak bicara kualitas sekolah
Jajaran piala yang menunjukkan kualitas sekolah

***

Anak-anak diminta untuk bergerak pindah dari kelas mereka menuju ruang audio visual yang berlokasi di lantai dua. Pengumuman disampaikan melalui pengeras suara yang diikuti oleh sorak sorai sebuah kelas yang juga kebetulan menjadi tetangga sisi lain ruang tunggu. Saya tersenyum sendiri. Memang meskipun anak zaman sekarang tidak bisa disama-samakan dengan anak-anak seusianya di zaman berbeda. Namun tetap saja ada hal-hal yang universal menggambarkan tugas perkembangan mereka. Sesekali merasa senang mendengar pengumuman bahwa kelas reguler ditiadakan karena satu dan lain hal, menjadi salah satu fenomena universal yang saya maksud🙂. Mekanisme mobilitas siswa ini persis dengan program terdahulu yang saya lakukan berkali-kali di almamater saban waktu mana kala saya memiliki waktu untuk mudik. Bismillah, semoga kegiatan ini membawa manfaat!.

***

Action, kamu bisa berbagi apapun yang kamu miliki. Tak selalu soal uang!

Pak Bahrudin membisiki saya jika saya bebas menggunakan waktu yang tersedia. Durasi acara hanya mengacu pada ketersediaan waktu yang saya miliki. Saya harus pulang ke hotel untuk keperluan chek out pada pukul 11.30. Jadi saya membatasi acara akan tuntas sekitar pukul 11.00. Acara disambut antusias para siswa. Saya hanya menggunakan video perjalanan capaian dan perjuangan pendididkan saya yang berdurasi sekitar 18 menitan plus sebuah pengantar singkat maka total saya membuka acara kurang lebih sekitar 30 menit. Sisanya kami melakukan diskusi. Pada kegiatan forum berbagi inspirasi dan karya ini, ada 3 siswa yang berkesempatan mengajukan pertanyaanya. Hal yang saya sayangi adalah semua penanya berasal dari kelas IPA dan berjenis kelamin pria. Kurang sekali keterwakilannya. Sepertinya pola sample seperti ini masuk ke dalam fenomena universal yang saya sebutkan di awal tadi. Tak apa,  saya percaya yang lain juga memiliki antusiasme yang sama karena selama acara berlangsung mereka memperhatikan dan berusaha memberikan respon yang amat baik. satu hal yang mengejutkan saya. SMU 1 Pangkala Bun memiliki siswa yang sudah memikirkan apa yang ingin mereka lakukan lepas meninggalkan bangku putih abu-abu. Fakta ini berbeda dengan kebanyakan remaja yang saya temukan, termasuk almamater saya sendiri. Tak salah jika sekolah ini dinobatkan sebagai sekolah terbaik di tanah sepotong syurag itu, Alhamdulillah acara berjalan lancar. Dengan berat hati saya mengakhiri program forum berbagi ini dan sekaligus menyampaikan salam perpisahan untuk meninggalkan Pangkalan Bun dengan pernyataan singkat namun berisi doa dan harapan

Semoga Allah memberikan bimbingan terbaiknya bagi mereka yang menyemaikan sifat-sifat mulia pada ranah tanam cita-cita dan mimpinya
Semoga Allah memberikan bimbingan terbaiknya bagi mereka yang menyemaikan sifat-sifat mulia pada ranah tanam cita-cita dan mimpinya

” Sampai bertemu di Benua Eropa. Jika pun Allah belum mengizinkan maka sampai ketemu di titik-titik sukses pencapaian kita!”

tepuk tangan yang membahana menjadi pertanda berakhirnya acara secara keseluruhan.

terimakasih SMU 1 Pangkalan Bun dan sampai jumpa

Wasalammu’alaikum warrohmatullahi wabarrokatuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s