Perjalanan menuju Sumbawa. Kota mimpi di zona tengah (1. Dari Bogor Kampung ke Bandara)

Saya mendapat informasi tiket keberangkatan tepat sehari sebelum hari H. Sebelumnnya saya dan seorang senior saya di dunia penelitian, sudah melakukan perencanaan keberangkatan kali ini. Kami telah merencanakannya sejak setahun yang lalu. Kemdian dipertegas ketika saya memberikan kepastian bahwa saya jadi berangkat ke Negara Viking.

“Boleh nih sekalian pamit, kamu berbagi inspirasi dan motivasi untuk mahasiswa dan para dosen di universitas tempat saya bekerja” demikian sebuah kalimat membuka gagasan undangan itu.

Saya antusias sekali dengan ide brilian itu. Maka jadwal kemudian disusun sebaik mungkin. Dari semula direncakanan saya akan terbang di awal Agustus hingga terkunci untuk jadwal keberangkatan di minggu akhir Agustus bersamaan dengan lewatnya masa-masa hectic staff akademis kampus dan masa datangnya hari penyambuatan mahasiswa baru. Klop! jadi kedatangan saya bisa bermanfaat maksi!

Saya langusung memasukkan jadwal kunjungan ke Sumbawa dalam applikasi manajemen kegiatan bulanan saya, ketika jadwal sudah dikunci. lalu mulai berpikir persiapan materi yang mungkin akan disampaikan. Meskipun untuk poin terakkhir selalu saja sistim kebut semalam (sks) menjadi pilihan terampuh untuk urusan yang beginian. Jadilah pembuatan kompilasi materi presentasi sebanyak 2 jenis selesai dalam 24 jam penuh🙂. Satu malam sebelum hari keberangkatan saya masih begadang untuk persiapan tadi. Ha….ha…..ha….Kalo dipikir-pikir sih, banyak juga sisi negatif prilaku kerja kayak gini. Terutama bila kita sudah tidak lagi berpikir tentang diri sendiri. Banyak yang menjadi korban terutama terkait sisi immaterial. Pengen sih meninggalkan gaya kerja gini.

Sempat deg-degan juga saat mengeksekusi rencana teknis keberangkatan. Hasil diskusi dengan istri, saya dianjurkan untuk sudah jalan dari rumah Bogor sekitar pukul 6.00-6.30. Kurang lebih, target tercapai. Masalahnya adalah kisaran waktu tersebut adalah puncak-puncaknya manusia Laladon Raya keluar rumah, terutama adik-adik sekolah dan ibu-ibu karir. Efeknya, angkot yang akan membawa saya keluar dari Laladon Raya menuju jalan Darmaga-Bogor kota padat tumpangan. Saya harus sabar sedikit dan menunggu nyaris lebih dari 15 menit. Naik angkot 32 dan berpindah ke angkot 03. Jalan 03 lancar jaya hingga taman topi. Angkot ini mulai berhenti sedikit untuk mencari tumpangan sekitar 5-10 menit. mestipun cuma hitungan jari menitannya, tetap saja membuat terasa begitu lama. Memang ada benarnya menurut perkataan orang bijak, jika ingin bertanya soal pentingnya waktu persekian detika dan menit tanyakan saja pada mereka yang urusannya ditentukan oleh nilai unti waktu terkecil itu. Sempat saya berfikir untuk memindahkan uang 5000 dari tangan saya ke dashboard angkot dan mengejar damri dengan menggunakan ojek. Saya lirik casio masih menunjukkan 7.15. well. saya pasrah untuk merelakan damri jadwal keberangkatan jam 7.30 berangkat tanpa saya. meskipun dalam hati  masih berharap “ada keajaiban ya Allah”. tepat jam 7.18 angkot hijau jurusan Laladon-Branangsiang ini bergerak. Alhamdulillah, jalanan kembali lancar jaya untuk ruas jalan selanjutnya: taman topi-damri. Dan tepat pukul 7.35(39) wib angkot yang membawa saya berhenti di pintu masuk terminal Damri.

Saya belum menyerah untuk berbagung dengan Damri terpagi (7.30) maka ketika melihat ada sebuah bus mulai perlahan bergerak menuju pintu keluar terminal, saya masih ngotot mengejar dan saat mulai dekat baru saya yakin jika itu bukan bus plat merah. ok….saya bergegas balik ke shaf antrian bus dan sembari jalan bertanya kilat kepada kenek Damri yang kebetulan berpapasan dengan pertanyaan singkat namun jelas maksud dan maknanya

“ini yang selanjutnya?”

“iya…” jawab beliau

Yuhu….akhirnya saya bergabung dengan Damri eksklusif dengan tarif khusus Bogor-Jakarta sebesar 75.000. Tak perlu berfikir harga dan mundur saya segera ambil kursi. Dan keputusan saya tepat, karena kursi yang tersedia sudah penuh. tak perlu menunggu hingga 8.00, Damri meluncur mulus menuju bandara tepat pukul 7.45. Nyamnya kursi memberatkan mata saya. Saya terlelap. Sesekali tersadar. Seingat saya hanya titik keluar pintu Cawang saja yang macet dan ini tidak berpengaruh pada jalur Damri. Selebihnya lancar tanpa rintangan berarti. Alhamdulillah, saya berhasil sampai bandara sekitar pukul 9.20. Yeay…..

Kesimpulan saya dari perjalanan ini, perjalanan dari Bogor kampung aka Laladon dengan angkutan umum kerakyatan bisalah sekitar jam 6.30-7.00 jika pesawat take off nya pukul 10.20, boardingnya jam 9.50!

IMG-20150827-WA0011

demikian sobat….

selamat bertualang………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s