Mimpi tentang Benua Biru. Alhamdulillah, Allah berkenan!

Saat persiapan kepulangan for good (kepulangan secara terus menerus karena sekolah telah selesai) di akhir tahun 2011 dari Korea dahulu, saya sempat sesumbar menyatakan akan sekolah di Benua Biru untuk jenjang selanjutnya. Saya ingat betul bahwa saya pernah menulis “Sampai jumpa di Benua biru untuk program PhD” di salah satu media sosial. Saya bukan termasuk tipe pengguna media sosial yang selalu menulis atau mengumbar kepada publik terkait apa-apa saja yang dipikirkan. Saya akan menshared atau menulis sesuatu yang saya pertimbangkan bahwa hal itu akan memberikan banyak manfaat baik kepada diri saya sendiri atau juga orang lain (syukur-syukur). Maka kala itu saya merasa perlu menulis apa yang saya sebutkan tadi. Tak berapa lama, seorang adik kelas memberikan komen yang cukup positif. Ia pun mengungkapkan bagaimana cara ia memandang saya dalam hal saya sebagai salah seorang yang memberikannya motivasi untuk terus mengukir prestasi dengan cara mengejar mimpi-mimpi yang diidamkan. Saya kala itu merasa bersyukur. Setidaknya saya bisa memberikan manfaat kepada orang lain melalui hal kecil yang saya bisa lakukan.

Benua Biru itu.....Alhamdulillah
Benua Biru itu…..Alhamdulillah

Singkat cerita, pada tahun 2013 Allah mentakdirkan saya untuk melanjutkan jenjang doktoral di almamater saya, IPB. Saat itu studi saya disponsori oleh sebuah lembaga kerja sama bidang pendidikan USA dan Indonesia yang menamakan dirinya dengan sebutan USaid. Cerita saya dan USAid memiliki alur yang panjang dan berliku. Potongan plot ceritanya tidak semulus dugaan saya tentang lembaga ini karena memandang nama besarnya. Banyak rekan dan senior memiliki skenario perjalanan hidup yang (hampir) selalu berakhir baik bersama lembaga ini. Saya memiliki episode sebaliknya. Saya harus puas melakukan penelitian dan kuliah di IPB tak sampai semester dua menutup periodenya. Saya berhenti di tengah jalan. Saya tak mampu meraih gelar S3 dari IPB meski saya berusaha untuk bertahan dengan segala cara yang saya bisa lakukan. Cerita pendidikan starta tiga saya tak berhasil menyentuh seri akhirnya. Apalagi samapai menuntaskannya. Saya harus mengundurkan diri karena secara hitungan finansial, USaid tak mampu memberikan dukungan secara penuh. Ia belum juga memberikan allowance hingga semester dua segera akan berakhir. Sebagai seorang married student, gaji bulanan (allowance) tak bisa ditawar-tawar keberadaannya. Wajib ada!. Mungkin akan banyak sobat tak percaya dengan fakta ini, namun demikian cerita yang berhasil menjadi bagian perjalanan hidup saya. Dan saya percaya ini adalah takdir dari Allah. Saya akan bercerita di tulisan lain bagaimana hal ini bisa terjadi antara saya dan lembaga yang (sekali lagi) telah bernama besar di dunia perbeasiswaan tersebut (tak terbantahkan).

.....Biru juga bumi Allah.....
…..Biru juga bumi Allah…..

Karena saya percaya bahwa ini adalah skenario terbaik dari Allah, maka kondisi saya saat itu justru seakan memberikan jalan kepada saya untuk kembali pada kemudi dan mengarahkan kapal untuk terus melajutkan pelayaran yang sempat tertunda menuju Benua Biru. Atas kehendak Allah pula, lepas secara resmi melepaskan diri dari titel sebagi penerima beasiswa lembaga Pam Sam, saya mencoba peruntungan lain dengan cara mendaftar beasiswa paling prestius yang ditawarkan pemerintah Indonesia. Beasiswa itu bernama Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI) atau Indonesia Presidential Scholarship (IPS). Meski awalnya sempat maju-mudur, akhirnya saya memberanikan diri untuk mendaftar di detik-detik penutupan gelombang satu. Dan Alhamdulillah, Allah menakdirkan saya menjemput mimpi: melabuhkan biduk cerita pendidikan saya selanjutnya di benua biru. Dengan beasiswa tersebut, Allah percayakan saya untuk belajar dengan sungguh-sungguh di sebuah negara yang menjembatani Eropa daratan dengan Zona Skandinavia: Denmark. Sungguh Allah juga yang memilihkan saya University of Copenhagen yang berdiri secara kokoh di sebuah kota yang katanya menjadi kota paling bahagia di planet bumi ini.

Semoga pencapaian saya sejauh ini tetap akan menjadikan diri ini memiliki semangat untuk terus berbagai kebaikan kepada orang lain. Tak memiliki materi untuk dibagi, tak pula menutup peluang untuk saya terus memelihara semangat untuk terus berbagai. Berbagai berupa hal-hal kecil yang bisa menginspirasi. Dan semoga sobat mampu melihat betapa besar peran Allah dalam setiap tapak-tapak cerita kehidupan yang saya bagi. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.

Niat itu utama, meski ia prihal rahasia. Semoga kita mampu membangun, memeilhara dan mewujudkan niat yang baik dalam bentuk apapun itu.
Niat itu utama, meski ia prihal rahasia. Semoga kita mampu membangun, memeilhara dan mewujudkan niat yang baik dalam bentuk apapun itu.

Selamat bersua Benua Biru. Dataran indah yang nama Allah pun makin keras disebut di dalamnnya.

Dragor, 13 Nov 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s