Tiga kunci kesinambungan peningkatan kualitas SDM


SDM tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu komponen penting dalam sebuah organisasi. Dan negara merupakan salah satu bentuk organisasi kompleks yang mengatur urusan politik, sosial, budaya, hukum, ekonomi dan keamanan (dan urusan-urusan lain terkait usaha menghadirkan kesejahteran bagi rakyatnya).

Namun SDM ini bersifat dinamis dan membutuhkan energi besar untuk mengelolahnya. SDM ibarat bahan mentah yang menuntut sentuhan “tenaga” yang pas agar ia menjadi lebih berdaya, termanfaatkan dan membawa manfaat untuk kebaikan. 

Usaha panjang melakukan perbaikan SDM dengan dasar menghargai potensi bawaan SDM itu sendiri sejak lahir adalah kunci pertama peningkatan kualitas SDM. Istilah yang lekat dengan langkah ini adalah investment. Ya…seperti hal makna umum investasi dalam ilmu ekonomi, pada fase ini akan ditemukan pengorbanan yang paling besar. Pengorbanan waktu dan tenaga. Untuk mencapai sebuah keberlangsungan proses yang konsisten. Setelah investment dibutuhkan kunci kedua yaitu utilization atau pemanfaatan. Adalah hukum alam yang lumrah. Sebuah sistem harus dimanfaatkan sesuai fungsi untuk menjaga keberlangsungan sistem itu sendiri. Dalam ilmu alam, sebuah sistem yang sudah mapan akan mengalami kemunduran kerja bila didiamkan dalam waktu lama. Bahkan jika terus menerus ditinggalkan bukan tidak mungkin ia akan mengalamai kerusakan hingga bisa mencapai titik kondisi terburuk yaitu kehilangan fungsi secara fisik maupun non fisik.  Demikianlah, kunci pemanfaatan hakikatnya tidak hanya dalam rangka mengambil keuntungan atau buah kebermanfaatan dari SDM yang telah terbina dengan baik, melainkan juga menjadi mekanisme tersendiri untuk memastikan SDM akan tetap terjaga kualitasnya, bahkan akan membuka peluang untuk terus menjadi lebij baik dikemudian hari karena sifat dinamis positifnya tadi. 

Kunci terakhir dalam usaha peningkatan kualitas SDM yang berkesinambungan adalah walfare atau kesejahteraan. Poin ini mengambil subjek pelaku SDM itu sebagai objeknya. Setelah SDM berkualitas telah berhasil menjalankan performa kerja yang optimum atau baik, maka sudah semestinya unsur pelaku SDM itu mendapat penghargaan yang pas. Terpenuhi syarat-syarat untuk mereka dikategorikan sebagai pihak yang sejahtera. Logikanya, tidak mungkin sebuah sistem bekerja dengan baik mana kala hak-hak dasar sistem tidak terpenuhi. Dan dalam kehidupan manusia sebagai mahluk yang memiliki cita rasa emosi yang khas, terhadirkannya sebuah jaminan kebahagian atau kesejahteraan baginya dan orang-orang yang penting dalam kehidupannya merupakan harga mati yang tak bisa ditawar lagi agar mereka dapat dengan tenang menjalankan peran produktif fungsi kualitas SDM yang dia miliki.

Ketiga kunci yang disebutkan di atas adalah saling terikat satu sama lain. Terjaminnya pencapaian satu kunci akan memberikan efek baik bagi kunci lainnya. Sebaliknya tidak akan pernah tercapai misi peningkatan kualitas SDM apalagi tercapainya proses yang berkesinambungan terkait hal tersebut jika satu saja kunci di atas diabaikan atau diterapkan secara tidak proporsional atau berat sebelah. 

*sebuah catatan hasil obrolan santai dengan bapak Duta Besar RI untuk Denmark dan Lithuania: bapak Muhammad Ibnu Said, di beberapa kesempatan yang saya sarikan dan tafsirkan secara bebas. Isi sepenuhnya tanggung jawab penulis. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s