Ketika sepeda pergi meninggalkan mu bersama kereta (S-tog) di Denmark

Ini kejadian super memacu adrenalin buat saya. Sesuai judul, kejadiannya adalah ketika dengan lugunya sepeda yang saya miliki pergi meninggalkan saya jauh di belakang. Ia terlihat pasrah diajak lari oleh sebuah kereta hingga stasiun terakhir. Terasa banget kala itu seakan waktu berputar melambat. Ujung kepala kereta seakan melambai penuh kemenangan seraya berujar “bye bye sobat….sepedanya saya pinjam”. Meminjam tanpa aqad yang jelas. Terasa terang rasa sakit dan galaunya jiwa saat menghadapi kondisi demikian. Pantas saja Allah memasukkan orang yang meminjam barang milik orang lain, lalu dikemudian hari mengakui barang pinjaman itu sebagai miliknya, sebagai orang yang tak dipedulikan Allah di hari pengadilan kelak. Padahal di hari itu, tidak ada yang bisa melindungi kita selain Allah. Kebayangkan, jangankan perlindungan, orang demikian sudah dicuekin Allah sedari awal karena dosa yang ia lakukan. Serasa setimpal balasan itu untuk orang yang tega bergembira diatas kesusahan orang lain. 


Kembali ke pembukaan cerita. Saya mendadak membeku. Mati gaya tidak bisa berfikir taktis dan preventif. Saya hanya bisa nelangsa beberapa menit seperti ada sesuatu yang  mengaktifkan mode pause dalam sistem nalar dan kerja otak. Duh…seperti potongan adegan Matrik yang fenomenal jika ditayangkan lacar kaca mungkin🙂 bedanya kalo adegan di Matrik didramatisir oleh gerakan menghindar dari peluru sang tokoh utama. Kalo saya, wajah melongo terasa hopeless tanda tak memiliki daya dan upaya. 

Setelah kereta makin menjauh, saya mulai bisa menguasai keadaan. Mengambil handphone, lari kecil bolak balik, sambil bergumam “Oh…Allah. My bike!” 

Lalu sesekali terbayang jika sepeda ditakdirkan hilang tak kembali. Teringat transaksi yang baru saja terjadi beberapa bulan lalu. Transaksi dari seorang teman yang nilainya cukup tinggi untuk kelas sepeda bekas pakai di pasaran bursa sepeda bekas Denmark. Saya berusaha menyiapkan diri atas segala kemungkinan yang terjadi, pun yang terburuk jika itu takdir: sepeda tak kembali. Saya melirik papan info jadwal kereta. Saya belum melihat line atau jurusan kereta yang sama membawa sepeda saya di sana. Artinya line A belum akan kembali lewat qmak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s