” Kau mengajarnya (secara tidak langsung) menjadi penakut”!

Hari ini kami ke rumah sakit menemani Ammar. Ammar sudah mendapat jadwal test fungsi kerja sistem pendengaran sejak sebulan  lepas ia dilahirkan. Tak terasa, Ammar sudah (mudah2an) menjadi umat Nabi Muhammad di bumi ini sejak hampir kurang lebih 3 bulan yang lalu. Salah satu bekal yang diberikan rumah sakit ketika kami mengambil program ‘Pulang ke Rumah Awal (PKRA)’ adalah kartu-kartu jadwal kunjungan ke rumah sakit yang harus Ammar lakukan. Iya, bukan satu kartu saja, melainkan ada setidaknya 3 kartu yang menjadi semacam undangan buat kami, orang tua Ammar. Berdasarkan pemberian kartu itu kami secara tidak langsung diminta agar mulai melihat kalender pribadi dan memasukkan jadwal kunjungan Ammar ke RS sebagai agenda prioritas untuk dilakukan dalam beberapa bulan ke depan.

Menjelang hari H pemeriksaan bagaimana sistem pendengaran Ammar berkembang dan bekerja, Istri mendapat SMS dari perawat PKRA mengabarkan bahwa selain akan melakukan hearing test, Ammar juga harus diperiksa darahnya pada tanggal 25 Nov tersebut. Inti pesan yang ingin saya sampaikan pada fragmen ini adalah perencanaan tindakan medis  di sini sudah dilakukan dengan sangat rapi dari jauh-jauh hari bagi seorang pasien yang sudah terekam data medisnya. Salah satu wujud pengaturan perencanaan tindakan medis itu berupa penetapan jadwal-jadwal aktivitas medis yang harus dituntaskan pasien dalam kurun waktu tertentu. Dan sepertinya sistem temu janji yang rapi ini menjadi salah satu kunci kesuksesan pengupayaan pelayanan prima dalam sistem pelayanan medis di Denmark (ini yang kami rasakan).

Sesampai di RS. kami langsung menuju departemen yang ditunjukkan untuk 2 aktivitas medis Ammar tadi. Kami menuju kawasan zona 1 dan mampir ke sub departemen 130. Beberap pasien sudah memenuhi lobi untuk registrasi. satu mesin nomor antrian sudah bekerja sejak beberapa jam yang lalu. Proses registrasi pasien berjalan lancar. beberapa menit kemudian Ammar sudah dipangil untuk hearing test. Dalam test pendengaran ini ada dua pengecekkan yang perlu dilakukan. Tes pertama bernilai memuaskan yang maknanya sistem pendengaran Ammar secara fisik berkembang baik dan tes kedua belum bisa dilakukan karena Ammar masih dalam keadaan aktif bangun.

Pada tes kedua akan dilibatkan otak yang mengatur sistem kerja pendengaran. Jadi selama proses pengecekan Ammar harus dalam kondisi tidur. Kondisi ini dipilih agar selama proses pengecekan, mesin bisa mengukur sistem koordinasi input suara dari luar menuju membran timpani dan proses pengirimannya ke otak dengan lebih jelas tanpa interupsi atau noise sekecil apapun. Cara paling mujarab untuk membuat Ammar yang sedang kelaparan mengubah mode aktif bergerak ke tidur lebih tenang adalah aksi dipangku umminya dan diberi makanan terbaik untuk bayi dalam sejarah manusia yaitu ASI. Yeah! Ammar langsung memiliki mata 5 watt dan bersiap menerima proseso pengecekkan jilid 2. Hasil sesuai harapan kami. Alhamdulillah, baik tanpa catatan.

Antara pengecekan satu dan dua tadi kami sempat pindah ruangan aktivitas medis sebenarnya. Ya karena Ammar yang belum bisa tidur tadi. Nah di waktu jedah itulah Ammar langsung dipanggil untuk diambil darahnya. Dalam proses sampling darah kali ini Ammar menunjukkan pencapaian naik kelasnya. Sebelumnya sampling darah selalu dilakukan melalui telapak kaki mungilnya. Pada kesempatan ini, Ammar harus mengikuti prosedur pengambilan darah yang umum dilakukan pada orang dewasa yaitu melalui tangan sekitar bagian lipatan depan siku. Ada cerita di proses sampling darah kali ini. Denyut nadi Ammar  di sekitar lipatan lengan tidak ditemukan. Bolak-balik Ammar ganti posisi untuk diuyek-uyek tangan kecilnya oleh tenaga medis ruangan bagian sampling darah. Ammarnya adem ayem aja sepanjang proses ’pijat lengan’ namun sesekali ia merespon dengan gumaman yang meningkat desibel lengkingannya. Seperti biasa, Ammar selalu anteng menghadapi setiap tindakan medis. Terlebih jika sudah disuguhkan pengalih rasa sakit berupa cairan gula yang diberikan ke mulutnya menggunakan sutikan tanpa jarum. Tampaknya satu tenaga medis tidak cukup untuk memanggil denyut vena Ammar. Ruangan dengan kaca jendela berukuran besar menghadap taman itu kemudian dikunjungi satu tenaga medis tambahan. Bantuan tenaga tetap tidak menghasilkan kiranya. Denyut nadi Ammar tak kunjung dirasakan ujung telunjuk penuh skill mereka.

“Hahaha…i dont feel it at all” kata tenaga medis yang menyambut Ammar sejak pertama kali memasuki ruangan rapi dengan tempelan aneka karakter kartun di berbagai permukaan dinding dan kaca itu.

Saya dan istri tersenyum saja. Hanya bisa menemani dan paham bentul hal demikian mungkin saya dijumpai.

Tak beberapa lama selepas tenaga medis tambahan tadi meninggalkan ruangan karena merasakan kehadirannya tak menjadi solusi, datang seorang tenaga medis lain yang memperliahatkan aura skill menemukan nadi lebih tinggi dari keduanya. Hahaha telunjuk dengan skill menemukan denyut vena diberi level seperti game saja🙂. Benar. Hal yang paling umum dalam sistem pelayanan kesehatan di Denmark adalah sistem pelayanan paralel untuk setiap tindakkan medis umum termasuk di dalamnya proses pengambilan darah. Poin menariknya bukan saja pemberlakuan sistem pararlel agar lebih efisien dan hemat waktu namun juga setiap kelompok keahlian akan ada beberapa orang yang (entah bagaimana sistim mengaturnya) dianggap sebagai supervisor grup. Fungsi orang yang dituakan menurut parameter keahlian ini adalah akan dijadikan pusat pengaduan untuk memperoleh solusi teknis jika dalam menjalankan tugas para tenaga medis tersebut menemukan permasalahan.

Dan…..benar saja. Ia datang langsung menyentuh Ammar. Dengan cekatan dia mengambil peralatan yang ia butuhkan (termasuk di dalamnya sebuah selang diameter kecil yang terhubung dengan jarum kecil lagi tajam) dan memulai apa yang mesti ia lakukan. Iya tahu harus mulai dari mana dan melakukan apa. Tenaga medis “tuan rumah” mengambil posisi memegangi Ammar. Mereka bekerja sesuai dengan level keahlian semabari berkomunikasi tanpa suara. Mereka berkomunikasi hanya melalui setiap gerakan. Taktis yang mengagumkan! Saya dan istri menjadi penonton. Bukan istri tepatnya sih. 100% penonton itu saya seorang. Sedangkan istri menjadi pemegang syringe berisi air gula. Kok, tiba-tiba suasanya jadi tegang ya?

Ammar pun terlihat mendadak berwajah serius. Ups ternyata semua dimula dari respon tak sengaja istri yang mengekspresikan ketakutannya terhadap jarum suntik. maklumlah wanita sering terlalu dalam menjiwai keadaan disekitarnya. Menghitung detik-detik Ammar yang seakan-akan siap diberi beri tindakan medis lebih dari sekedar diambil darahnya membuat istri saya terbawa suasana. Menyadari nuansa mendadak berubah. Tenaga medis ’senior’ itu langsung ambil peran mengembalikan suasana kembali cari. Ia langsung bersuara tanpa diminta

’No..No…ayolah kamu akan mengajarinya rasa takut. Ia tidak apa2 kok. Ini akan tidak berarti sama sekali buat dia. tidak akan ada rasa sakit apalagi tangis’ tangan tenaga medis itu bekerja cekatan. Sementara seolah mengerti perasaan Ammar dan istri saya, Ia mengajak Ammar ngobrol dengan penuh rasa. Rasa sorang ibu yang membawa ketenangan kepada seorang anak yang tiba-tiba surut nyalinya karena disoraki ketika tak sengaja melakukan sebuah tindakkan yang semestinya tidak ia lakukan. Menjatuhkan mental! Sekali bicara tenaga medis itu menguasai keadaan. Seisi ruangan terpengaruh dan suasana santai kembali memenuhi ruangan cantik dengan desain khas Scandinavia itu. Sementara itu, dua tabung berukuran sekitar 10 ml sudah penuh dengan darah segar Ammar.

’Lihat. Apa yang saya katakan! No cry and he showed us that He enjoyed the process a lot!’

Semua tertawa dan tersenyum. Tenaga medis ‘senior’ langsung membereskan peralatan, bicara ala kadarnya dan pergi meninggalkan ruangan dengan senyum tulus yang tidak dibuat-buat. Tenaga medis tuan rumah melanjutkan bagian yang harus ia lakukan dan kami bersiap dengan semua peralatan Ammar untuk bergerak menuju ruang tunggu.

’Ammar is super! All you have a good day!’

‘Tusind Tak and You are too’ balas istri saya penuh takzim.

Ammar, Saya dan Istri meninggalkan ruangan pengembilan darah dengan perasaan yang sama: bahagia. Namun istri dan saya merasa lebih bahagia lagi kala itu karena mendapat bonus praktik gratis dan dalam pengawasan ahli seputar ilmu parenting dengan topik bagaimana membesarkan perasaan anak ketika dihadapakan kepada sesuatu yang mungkin tidak membuatnya nyaman.

Dalam hati saya berkata ’Abang Ammar mari kita belajar bersama yuk untuk menjadi orang besar dan Ummi mari kita jadi orang tua yang sholeh untuk Ammar yuk. Sholeh amat dekat dengan sifat terbuka terhadap setiap kebaikan dari mana pun Ianya bersumber’

Salam semanagt untuk para orang tua super dimanapun kalian berada!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s