Serba-serbi pindahan di Denmark: Migrasi dokter pribadi yang liku-liku asyik :)

Masih soal pindahan sobat pembaca. Mumpung masih baru, selalu aja ada topik menarik untuk ditulis, ini bisa jadi salah satu “booster” dalam aktivitas menulis. Tapi!, tunggu dulu. Sepertinya tidak juga. Menulis itu lebih pada……Ehmm #mikir ;). Menulis itu lebih pada soal kemauan untuk konsisten. Untuk saya, prihal konsistens masih menjadi sebuah misteri. Jadi, konsistensi menulis otomatis masih menjadi sebuah perkara misteri buat saya. Secara jujur sih ingin sekali suatu saat saya bisa secara berkala dapat menulis dengan aktif. Tapi, inginya menulis banyak tulisan yang tak lain hanya memberikan manfaat. Tak ingin ada tulisan yang tak “berisi” apalagi berkelas sampah. Sekali lagi, mudah2an kelak saya bisa banyak melahirkan karya tulis yang mampu mengandung nilai kebaikan saja, tak ada yang lain, aamiin. Doa ini saya panjatkan untuk semua produk tulisan baik itu terkait profesi saya sebagi seorang ilmuan maupun seorang penulis lepas yang benar-benar lepas 😉 (bukan kelepasan)

baiklah kita kembali ke artikel bebas kali ini. Saya ingin berbagi cerita tentang proses penggantian General Practioner (GP) atau dokter kesehatan keluarga kami. Sebagai info awalan dan ini belum sempat saya ceritakan dalam tulisan sebelumnya, sesiapa saja, semua warga, baik itu WND (warga negara Denmark) maupun WNA yang memegang CPR (kartu registrasi kepedudukan Denmark resmi) memiliki hak mendapat pelayanan kesehatan yang paripurna (menurut saya yang membandingkan realita Denmark dengan realita kehidupan saya secara umum) atau dengan kata lain semua fasilitas kesehatan gratis. Untuk keluhan tertentu seperti urusan gigi, keluhan kaki dan mata dan fisioterapi berbayar alias diluar kategori gratisan.Fasilitas gratis itu berupa pemeriksaan, pengobatan dan layanan gawat darurat. Hanya obat yang harus kita tebus sendiri (dalam keadaan tidak darurat). Jadi kalo mau obatan juga gratis, sekalian saja pakai jalur darurat. Hahaha, mau? Saya mah, gak dach! Adapun GP juga negara yang atur peruntukannya. Masing-masing WND dan WNA resmi, perkepalanya diberikan satu GP. Saya menamakannya dokter pribadi. Tak berlebihan juga penyematan istilah ini, meski ide terminologi ini terinspirasi dari film-film telenovela yang dulu pernah booming di era 90-an. Dalam film sering ditampilkan cerita,  jika hanya keluarga kaya terhormat yang memiliki dokter pribadi. Tak juga berlebihan kiranya saya memakai frase itu untuk menyebut GP di Denmark ini. Jadi mumpung bersentuhan dengan sistem kesehatan yang memang menyediakan dokter yang “seakan2” personal sekali alasan keberadaannya untuk kita. Ya….jadi saya namakan saja ia sebagai dokter pribadi. Kerenkan kesannya :). Yeay….sesekali merasa jadi keluarga kaya menurut versi telenovela tahun 90-an hahahaha. Awalnya merasa, muda2an besok2 bisa benaran kaya. aamiin. Yes….kadang membangun perasaan “merasa” itu penting, tapi ingat jangan dengan dosi berlebih 🙂

kembali soal GP. Setahun yang lalu, kami memilih GP yang bertugas di klinik wilayah Tarnby (municipality) yang mana merupakan  municipality terdekat dengan Dragør. Saya ingat betul saat pemilihan GP dahulu, saya dan istri mengajukan kriteria GP yang kami inginkan: wanita (female GP) alasan sederhana, karena dulu dalam benak saya prioritas pelayanan kesehatan  itu adalah istri dan anak. Dengan alasan ini seorang tenaga medis wanita akan sangat cocok untuk kami. Dulu saya belum tahu betul, jika GP itu hitungannya perkepala dewasa. Sehingga dulu memutuskan preferensi jenis kelamain juga seakan menjadi sebuah bentuk pengorbanan dari sisi saya buat keluarga. padahal di kemudian hari saya tahu bahwa saya, sebagai suami WNA dewasa akan memiliki hak untuk memilih dokter saya sendiri yang bisa jadi berbeda atau sama dengan dokter istri. Hahaha…ya…setidaknya inilah bentuk ekspresi cinta saya buat istri dan buah hati #tsah…mendadak berubah jadi pink.

Singkat cerita, jadilah setahun istri memiliki dokter wanita yang baik (dokter Anita Møller). Sementara saya baru memutuskan memilih dokter setelah lebih dari satu tahun karena memang baru membutuhkan dokter ketika minta diperiksa akibat adanya keluhan tak nyaman di kaki beberapa bulan yang lalu. Dan itupun saya baru tahu jika saya punya hak memilih dokter pribadi baik itu sama dengan dokter istri atau dokter lain tergantung preferensi. Prinsipnya selama kriteria dokter yang kita ajukan cocok dengan dokter dalam list dan belum melampaui batas maksimal jumlah pasien. kemungkinan besar kita mendapatkan dokter yang kita mau. Saya memilih seorang dokter muda pria keturunan ras timur tengah yang dengan melihat namanya saja saya sudah lebih dari takjub dan respek karena dia bisa menjadi seseorang yang mampu mencantumkan nama arabnya di daftar profesi yang kebanyakan hanya diisi nama-nama lokal. Saya jadi ikutan bangga sebagai muslim 🙂

balik ke topik utama tulisn. Nah, karena kemarin kami pindahan dari Dragør ke Copenhagen, kami juga harus menunjuk dokter atau GP pengganti baru yang beroperasi di wilayah Copenhagen atau wilayah non Copenhagan dan masih berradius kurang dari 5o km dari kediaman kami. Karena ini pengalaman pertama migrasi GP dan dilakukan dengan cara online pula maka proses yang mungkin bagi sebagian orang sesimpel makan cokelat, bagi saya kok kemarin seperti makan juice lobak merah yang selesai menegaknya serasa mau segera tumbang karena mesti memikirkan banyak hal berupa kosekuensi yang gak enak-enak amat. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. karena keterbatasan ilmu. Istri mengajukan permohonan agar dokternya dan anak kami tetap yang lama. Alasannya karena sudah cocok dan nyaman (alasan klise) dan alasan esensinya adalah karena ia berharap bahwa tak akan ada permasalah dikemudian hari akibat miskomunikasi antara pasien dan dokter. hal ini acap terjadi karena jika pindah dokter artinya diagnosa akan dimulai dari awal dan kembalik akan menempuh perjalanan medis yang kurang nyaman lagi. permintaan ini saya kabulkan dan tratra. Namun efek makan jus lobak merahnya makin menguat manakala belakangan kami tahu bahwa rekam medis antar dokter sangat mudah ditransfer dari satu dokter ke dokter lain di Denmark. Caranya hanya dengan kita sebagai pasien menelpon sekretaris klinik untuk memberikan persetujuan bahwa dokumen medis kita diizinkan untuk di share. Dan ketika alasan esensi itu ditemukan jalannya. maka tiba2 muncul “tuntutan” baru dari istri sholeha saya. “bang, enak ya kalo dokter kita yang dekat aja dari rumah”.
  2. bunyi batre low terngiang-ngiang ditelinga saya. tapi, apa sih yang gak buat adinda? baiklah saya akan urus manakala ada waktu luang. telpon sana sini. jawabannya: kamu harus bayar karena kamu sudah menentukan pilihan pertama. dalam hal ini pilihan pertama akan dikunci dan saat mau ganti atas permintaan sendiri makan akan dikenakan biaya yang cukup mahal. kalo dihitung2 pakai kalkulator, biaya bisa untuk makan keluarga sebulan setengah. Aish….otak Mc Giver mulai bekerja dan tidak lupa berharap pada Allah soal solusinya.
  3. Sulosi menghindar dari kondisi dimana jatah setengah bulan kas kami terbuang ke pos yang tak direncanakan akhirnya ditemukan tanpa sengaja. Saat menelpon klinik dokter lama untuk buat janjian. Eh, saya ditolak sejak mulai dari kalimat pertama. Alasan mereka, sistem menolak kamu karena sekarang jarak kita sudah lebih dari 50 km. Nah loh, saat mendengar penolakan via telpon ini, saya langsung mua jingkrak dan salto aja, lalu sujud syukur deh. Ya Allah, Engkau bukakan pintu rezeki dari dan dala bentuk tak terduga. Jadilah say pura2 merasa menyesal karena ditolak dan sedikit memberikan bumbu2 bahwa sudah terkesan sekali pelayanan klinik mereka selama ini. dan telpon saya tutup dengan bertanya secara detil apa langkah saya selanjutnya untuk pindah ke lokasi terdekat meski faktanya kemarin setelah konsul dengan pihak terkait saya dipesan akan dikenakan biaya jika tetap bersikeras mengganti dokter untuk kedua kalinya. singkat prosesnya, kami berhasil mengganti dokter dan semua sesuai rencana dan tantangan selanjutnya adalah:
  4. buat janji dengan klinik dokter baru . Hufh…..telpon berulang2 di jawab robot. setelah nyambung, ada suara ibu-ibu Danish mengucapkan beberap patah kata lalu seakan telpon di letakkan di suatu tempat dan ditinggal pergi. Kejadian ini berulang dan saya dibuatnya geram tak bisa apa-apa. akhirnya pakai trik lawas, meminta teman Danish yang berbicara melalui telpon dan mewakili saya menceritakan kondisi kami yang harus ketemu dokter segera namun baru pidah dokter. sempat panjang juga proses percakapan yang diwakili. Sepertinya klink baru sedang ada masalah sehingga membuat mereka terkesan tak “serius” melayani pasien melalui telpon.
  5. cerita belum berkakhir. saya harus menelpon kembali klinik lama dan meminta mereka untuk membuka akses bagi dokter baru istri di Amneh Hawwa Klinikken (http://www.35851169.dk/) Webnya cukup unik, web pertama yang saya kunjungi dengan sengaja namun hanya terdiri dari angka saja. Macam situs tipu-tipu, hahah dan kesan pertama seakan mendukung praduga ini. well hari ini waktunya kita membuktikan bahwa pelayanan kesehatan di Denmark itu adalah service excellent seperti pengalam kami pribadi selama setahun ini. mudah2an akan terus seperti ini tak terkecuali di klinik baru ini. Aamiin.

Demikian liku-likunya mengganti GP, asyikkan? dan pengalaman ini tidak akan pernah kita temui di Indonesia. Ya iyalah sob, pan di Indonesia kita menyebut dokter kita dengan panggilan bu/pak dokter.

Selamat beraktivitas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s