[Reportase] Perpanjangan Residence Permit Study di Denmark

Seperti kekhawatiran yang sejak dulu saya kemukakan dalam beberapa tulisan, akhirnya hari itu datang juga. Tepat tanggal 22 Februari  2017, residence permit (RP) saya habis karena terkena pasal pemendekan masa izin tinggal akibat masa berlaku paspor yang lebih singkat. Pemendekanpun jatuh lebih cepat sekitar 3 bulan dari tanggal kadaluarsa paspor. Jadilah tanpa bisa melakukan apa-apa karena keterbatasan ilmu, saat menerima guaranteed residence permit yang tidak seusia dengan jangka waktu enrollment PhD, saya cuma bisa binun sendiri dan kemudian memilih pasrah karena salah satu staf lokal kedutaan Denmark di Jakarta mengkabarkan jika kelak saat perpanjangan saya tidak perlu membayar lagi. Hanya menyerahkan paspor baru dan rp akan otomatis disesuaikan dengan enrollment. Sebelum sampai di hari H, saya berangur semakin yakin jika apa yang disampaikan staf lokal itu nyaris 100% salah. Jika mengacu pada pengalaman saya tinggal di LN. Memang sih ada negara yang memberlakukan aturan umum seperti yang beliau sampaikan, Korea Selatan misalanya. Dan saya mengalami sendiri pengalaman persis serupa dengan apa yang disampaikan si ibu baik hati dan ramah nian tertkait usia paspor yang lebih pendek itu. Sepertinya Denmark memiliki aturan berbeda. Apakah sobat WP ada yang yang memiliki pengalam serupa saya saat di Korsel atau justru seperti saat di Denmark ini?.

Makin panas dingin manakala saya menemukan fakta dari list pada laman resmi imigrasi Denmark: https://www.nyidanmark.dk/da-dk, bahwa biaya perpanjangan RP sama persis dengan biaya pengajuan baru :). Maka jika dihitung-hitung, karena ada dua RP lain yang bergantung atau nempel dengan RP saya (istilahnya dependent RP), total biaya yang harus saya siapkan adalah sebesar hampir 6000 DKK. MasyaAllah dan Alhamdulillah! Allah percayakan kami sebagai orang yang mampu mengeluarkan uang sejumlah itu dan Allah pula yang sediakan kami sebuah kantong yang masih bisa dikuras (satir gaya tabah dan penuh kesyukuran) hahahah. Kebayang jika sudah tidak ada tempat mengeruk uang 🙂

Dalam tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman selama proses perpanjangan RP. Seru!. Itu satu kata yang cukup mewakili. RP saya berjenis student type (jadi meskipun PhD dianggap employee. Dalam pengelompokan jenis RP yang bersifat umum PhD fellow dikatakan sebagai salah satu pemegang RP belajar. argumentasi ini sepertinya yang bisa menjawab pertanyaan yang sering datang mengapa dalam kasus perubahan status seseorang dari PhD ke Post Doc. beberapa layanan yang dulunya bisa diperoleh gratis oleh pelaku PhD dan anggota keluarganya akan otomatis berubah menjadi berbayar manakala si aktor PhD naik tingkat menjadi seorang Post Doct-er :). kasus yang paling nyata adalah soal pendidikan anak, tapi tidak berlaku untuk health security. Dulu saya masih bingung dengan status PhD ini dalam kaca mata imigrasi dan makin lama kebingungan itu makin sirna karena menemukan jawaban nyatanya di lapangan.

Apa yang saya lakukan dari awal terkait persiapan perpanjangan?

Pertama. Simpan dengan baik-baik dalam ingatan tanggal akhir berlakunya RP lama. Pemegang RP yang sudah di dalam Denmark sudah boleh mengajukan perpanjangan 4 bulan sebelum RP berakhir. Rajin dan cermat membaca aturan perpanjangan di laman web resmi imigrasi Denmark tadi. pastikan kasus dan tipe RP kita benar, jika tidak akan berefek pada penjelasan yang salah terkait apa yang akan kita lakukan kelak. Ingat, jika pengajuan atau submit aplikasi perpanjangan RP dilakukan lewat dari tanggal kadaluarsa RP lama maka hanya satu yang bisa kita perkirakan atas nasib RP kita kelak: ditolak sejak pengajuan pertama. Konsekuensinya kita wajib pulang ke negara kita masing-masing atau bahasa kerennya dideportasi. Jadi jika ingin merasakan pengalaman dideportasi silahkan pilih langkah ini. Kabar2nya setiap orang yang dideportasi, tiket pulang dibayarin loh….hahahaha….#hoax (belum ada info yang jelas) :). Jadi? 😉

Kedua. Setelah jelas dengan narasi dan dokumen yang kita perlukan, maka kita harus mempersiapkan energi untuk mengurus dokumen itu satu persatu. Untuk urusan dokumen, menurut saya rekam tabungan di Denmark dan salinan bukti pembayaran biaya kuliah dari universiutas adalah dua dokumen yang memiliki tingkat kesukaran dengan ciri khasnya masing-masing paling tinggi. Namun demikian keduanya dapat kita akali. Belajar dari pengalaman, untuk salinan tabungan bank lokal saya hanya berusaha membuat isi tabungan terlihat sebanyak mungkin saat saya mengambil screen shoot yang memuat jumlah saldo terakhir. Saya belum terlalu yakin jika cara ini berujung sukses atau tidak?. Saya sendiri masih menunggu approval perpanjangan RP  kami. Mudah2an cara ini cukup berhasil. Alternatif lain seorang senior, menganjurkan saya untuk mendatangi bank dimana saya membuka rekening. Menurut beliau cukup lumrah bagi nasabah meminta bank untuk mngeluarkan surat jaminan bahwa kita memiliki rekening yang cukup sehat. Masukkan terakhir belum bisa dipertanggungjwabakan karena saya sendiri belum pernah menemukan contoh suksenya. Dalam kasus saya, salinan buku tabungan atau rekam online aktivitas perbankan berguna sebagai salah satu syarat pengajuan RP baru untuk anak. Sedangkan pengajuan perpanjangan RP saya dan istri tidak memerlukan dokumen ini. menurut peraturan yang berlaku satu jiwa harus dijamin oleh sejumlah uang perbulan minimal sebesar +/- 6050. Sponsor harus bisa menunjukkan jumlah uang dalam rekening tabungannya untuk masa minimal 1 tahun atau 12 bulan. Jadi total dana yang harus terlihat dalam tabungan sekitar 72.600. Sebagai seorang mahasiswa, jumlah ini cukup besar. Di sisi lain, peraturan ini bersifat kurang jelas. Seorang teman yang baru saja mendapatkan jawaban disetujuinya RP bagi putrinya yang juga lahir di Denmark bercerita kepada saya bahwa saat melakukan pengajuan RP untuk anaknya, salinan tabungan tidak masuk dalam dokumen yang ia sertakan. Dokumen itu bisa digantikan oleh surat sponsor dari pemberi beasiswa (dan kebetulan kami adalah penerima beasiswa dari lembaga yang sama) dan diperkuat oleh bukti pembayaran uang kuliah selama satu tahun. Inilah alasan yang akhirnya mempengaruhi saya untuk mencoba usaha sendiri dahulu dengan cara memperbanyak jumlah tabungan semaksimal yang saya bisa sebelum meminjam dari pihak ketiga ataupun meminta rekomendasi dari bank setempat.

Soal bukti transfer pembayaran biaya kuliah memiliki ceritanya sendiri. Untuk pengalaman saya sebagai PhD student di KU. Meski saya sudah mengajukan permohonan memperolah salinan dokumen yang dimaksud. sampai hari ini (sudah hampir lebih dari sebulan) dokumen itu tak kunjung saya terima. Padahal professor saya turun tangan langsung untuk urusan ini. Untung saya memilih untuk mencoba alternatif lain. Saya berhasil memperoleh salinan pembayaran dari lembaga beasiswa yang mensponsori saya. Mudah2an kekuatan dokumennya dinilai sama dan urusan RP ini berakhir dengan cerita yang membahagiakan.

Cerita singkat proses applikasi hingga detik-detik akhir tanggal kadaluarsa RP.

Jadi kali ini saya akan mengurus 3 RP sekaligus. Dua perpanjangan RP dan satu pengajuan baru. Mulanya saya hanya fokus pada perpanjangan RP saya dan istri saja. Pertimbangan saya kala itu soal jumlah uang yang harus dikeluarkan terkait biaya pengurusan RP. Karena RP anak tidak memiliki batas waktu paling lambat pengurusan, jadi saya berfikir mulanya bahwa RP kami adalah prioritas utama untuk segera dieksekusi. Seluruh aplikasi dilakukan secara online. Karena saya sudah memiliki NEMID atau tanda tangan digital maka semua urusan menjadi lebih mudah. Aplikasi saya selesai, demikian juga untuk istri. Setelah dipikirkan dengan baik-baik akhirnya saya memutuskan RP anak juga sekalian diselesaikan. jadilah 3 Rp diurus secara bersamaan.

Bermodal saran dan bantuan mesin pencari, untuk RP anak saya menggunakan formulir B01. Antara senang dan tidak percaya saat mengisi formulir dan melengkapi dokumen saya menemukan fakta bahwa aplikasi RP anak B01 tidak berbayar. Konfirmasi sana-sini, teman setengah tak percaya cuma bisa komentar “mungkin peraturan baru dan memang di Denmark peraturan suka berubah2”

jawaban terang menderang baru bisa ditemukan saat kami datang ke Citizen Center dan berbicara langsung dengan petugas imigrasi yang melayani masyarakat asing untuk urusan pengambilan data biometrik. Petugas secara terang2an menunjukkan wajah pemakluman bahwasanya kasus salah memilih formulir untuk pengajuan PR anak yang lahir di Denmark sudah amat lumrah terjadi. Jadi anak seorang pemegang RP belajar dan bekerja yang bukan pemegang izin tinggal permanen lebih tepat menggunakan formulir jenis MF1 ketimbang B01. Dan pengajuan dengan formulir MF1 sudah tentu berbayar . yah gagal gratis donk :(.

Akhirnya proses pengajuan perpanjangan RP dan pembuatan PR baru berjalan lancar meski dilakukan penuh perjuangan yang seru hingga detik terakhir. Setelah melakukan pengambilan data biomterik, termasuk juga untuk si kecil. Biometrik adalah tanda komplitnya proses pengajuan RP. Kami memperoleh receipt. Meski hanya selembar kertas, receipt ini memiliki kekuatan hukum berupa pemberian masa tenggang untuk tinggal di Denmark dengan jaminan terbebas dari proses deportasi meski masa kadalurasa RP sudah tiba. Peran receipt akan digantikan guaranteed RP bila kelak saya sudah menerima kabar selanjutnya dari pihak imigrasi.

Alhamdulillah….meski belum mendapat approval soal RP, setidaknya masa-masa menegangkan karena berurusan dengan acaman deportasi sudah saya dan keluarga lewati. Kini waktunya untuk memperbanyak doa! Bismillah…bagi Allah urusan ini kecil!

Demikian sobat wp. Mudah2an berguna beberapa informasi kecil yang saya bagikan dalam tulisan panjang ini.

TV135, 1 jam lepas tengah malam .)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s