Alhamadulillah….ide simpan laptop di tas sepeda saat kepepet! Brani? “Serahkan saja pada Allah!”

Sobat, kali ini saya ingin berbagi cerita yang cukup seru. Eh, ada hal yang lebih penting selain sekedar seru sih! Yaitu saya melihat bahwa Allah tidak diam saat kita berusaha dan dihadang keadaan yang menghimpit. Kuncinya percaya dan perkuat doa.

Setting cerita ini mengambil tempat di depan kedutaan AS di Denmark, satu lingkaran blok kedutaan: dari seluruh penjuru, nyaris membentuk lingkaran utuh :), stasiun Østeport dan satu komplek gudang tua terawat apik berlokasi tak jauh dari stasiun.

Cerita lengkapnya begini, saya membuat janji wawancara yang merupakan bagian tak terpisah dari aplikasi visa negara berpenduduk asli Indian ini pada tanggal 25 April yang lalu. Jadwal yang saya pilih jam 10.45. Karena rumah berlokasi cukup dekat dengan alamat  kedutaan, maka saya mengatur rencana meninggalkan rumah pukul 9.45 saja. Dengan bersepeda santai sembari menikmati indahnya suasana kota Copenhagen sebelum jam kerja, tujuan hari itu mampu saya jangkau sekitar kurang lebih 30 menit saja dengan mengendarai Indigo berkecepatan lambat.

Sejauh ini kondisi aman karena sesuai SOP kunjungan, maksimal kita diharapkan hadir kurang lebih 15 sebelum jadwal. Perasaan tiba2 jadi gak nyaman ketika melihat antrian orang di depan kedutaan cukup panjang. Pada tahukan semua hal terkait AS itu selalu “spesial” termasuk untuk urusan masuk kedutaannya?. Ini belum bicara soal bagaimana serunya usaha yang harus dilakukan untuk memperoleh visanya itu sendiri. Komplit sudah! sampai perasaanpun dibuatnya teraduk2 ketika kita berurusan dengan AS, bahkan sejak pertama kita menyebut namanya (lebai amir!)

Baik…saya berusaha menata perasaan agar kembali tenang. Sepeda saya parkir sebisanya dan membawa dua tas bersama menuju barisan antrian. Tas punggung berisi laptop dan tas sepeda yang menemani saya kemana2 saat mengendari sepeda. Bila diamati dengan seksama, saya terlihat paling rempong dengan dua tas. Ada sih, satu orang ber-ras Afrika, juga menyandang tas pungung. Namun dari ukuran dan jumlah tas, saya seng trada lawan :).

Bak antrian mau masuk bandara internasional (bahkan lebih ribet dan detil), satu2 peserta dipanggil. Diabsen dan ditanya ini itu. Lalu diminta pindah ke barisan terpisah selanjutnya. Di grup barisan kedua inipun, pengunjung harus masih menunggu sebelum pintu dibukakan. Dari kejauhan, saya sih berusaha menebak, apa saya yang ditanya petugas di grup barisan pertama. Saya berasumsi, mungkin petugas menyakan barang2 apa saja yang pegunjung bawa membersamainya. Saya masih tenang menunggu antrian yang bergerak super lelet. Suasana hati berubah hingga waktunya tiba. Ketika saya sudah berjarak beberapa rentang lengan saja dari tempat petugas pengecek melemparkan pertanyaannya ke setiap pengunjung yang telah mendapati gilirannya tiba. Saya mampu menyimak dengan jelas tanya jawab antara petugas dan seorang pria paruh baya dengan rambut pendek dan keriting serta membawa tas punggung tadi. Ia tidak diizinkan pindah grup barisan. Dari obrolan itu: laptop haram dibawa masuk ke dalam kawasan kedutaan. Pria berdarah Afrika itu dipersilahkan mencari tempat buat menitip laptop dan hanya diberikan waktu 30 menit untuk kembali guna mengikuti wawancara pada hari ini hingga tuntas. Jika tidak dia hanya punya pilihan untuk pulang dan membuat jadwal baru di hari berikutnya!. Mak jleb, saya lemas karena memikirkan nasib yang sama akan saya hadapi.

Tapi bukan Jaya kalo namanya tidak “keras kepala” dan memilih tetap diam di barisan hingga gilirannya sendiri tiba.

“Hai” sapa petugas “sedikit ramah”. “English or Danish” ia memberikan opsi bahasa yang saya pahami.

“English” jawab saya. Pengennya sih Bahasa Indonesia, hahaha.

Petugas langsung bertanya jam berapa jadwal wawancara yang saya pilih. Saya jawab 10.50 karena kikuk. Beliau cari dalam list dan tidak ditemukan, padahal passport sudah saya serahkan kepada beliau untuk rujukkan pengecekan. Lalu saya baru ingat dengan jelas, janji saya terjadwal 10.45 dan beliau berhasil menemukan nama saya dalam daftar.  Saya diajukan rangkain pertanyaan yang sama. Barang apa yang saya bawa? Semua ok, selain laptop. Saya masih sempatnya berargumen dengan mengambil info dalam email konfirmasi dari kedutaan yang menyebutkan bahwa barang elektronik bisa dititipkan kepada petugas sebelum diperkenankan masuk. Dan batahan saya dilumpuhkan dengan penjelasan singkat: “tidak untuk perangkat besar seperti laptop” menyadari kelemahan diri prihal membaca secara detil. Saya memilih untuk menghentikan debat dan mundur dengan teratur dari barisan.

“Baik saya akan kembali dan kebetulan kampus saya dekat”

Good luck” petugas itu tersenyum ala kadarnya.

***

Saya bergegas mengambil sepeda. Sambil menyiapkan sepeda dan pakaian yang pantas untuk bersepeda (karena suhu masih terasa dingin). Sembari melakukan runtutan persiapan itu, saya memutar otak dengan keras. berikut daftar pikiran yang menguasai otak saya kala itu:

1. Pertama. Kampus di mana saya duduk secara permanen tidaklah dekat. Sekitar 1,5 jam perjalanan dengan sepeda. Opsi ini coret!

2. Hal paling mungkin menyewa loker di perpustakaan Norreport. Berlokasi kurang lebih 15 menit dari kedutaan. Terlalu beresiko. Bolak balik saja sudah 30 menit. Saya tandai ini sebagai opsi nomor dua prioritas jika tidak ada opsi lain.

3. Minta tolong seorang teman yang duduk di kampus lebih dekat dari lokasi saya sekarang. Sayang sekali, meski sudah ditelpon berulang, tetap tak ada tanggapan. Mungkin sedang sibuk! Pasalnya ini mendadak dan tepat diwaktu orang-orang sibuk menulai hari kerjanya. Benar-benar rezeki jika dalam keadaan begini saya bisa menjangkaunya. Nihil!

4. Terus mengayuh sepeda menapaki jalur yang saya sama sekali buta akannya. Saat itu saya hanya berfikir harus megarahkan sepeda menuju Norreport. Sembari terus berdoa “ya Allah…tolong hamba”

Tak terasa saya sudah memutari blok dimana kedutaan AS beralamat. Bahkan karena mengandalkan googlemap yang kadang penyelarasan GPS-nya lemot dan diperparah saya tak begitu handal soal membaca arah, nyaris saja saya komplit melakukan satu putaran tawaf kedutaan. Naasnya saat memutar arah dengan tiba-tiba, roda sepeda nyaris tergelincir karena teselip bebatuan kecil kali penghias taman.

Setelah berhasil menyelamatkan diri dari tawaf penuh dan gagal tergelincir, saya langsung membanting setir dan memutar sepeda menuju stasiun Østeport. Terus saja saya mengayuh sepeda yang perlahan terasa berat :(. Kembali tersesat masuk ke lokasi gudang tua yang keseluruhan lamannya ditutupi paving block khas dataran eropa. Alhasil, sepeda saya makin berat dikayuh dan hampir saja terjatuh kembali karena lantai yang tidak rata. Pikiran menjadi cerah seakan mata melihat cahaya, ketika saya sudah berada di taman yang betetanggan dengan stasiun Østeport arah menuju Norreport. MasyaAllah, saya menuji Allah. Saya spontan terpikir soal sepeda dan tas sepeda. Mengapa saya tidak simpan saja laptop dalam tas sepeda dan tiggalkan ia bertengger di kerangka boncengan selama sepeda terparkir di tempatnya. Logika sederhannya, tas itu memang lazim dibiarkan menyatu dengan sepeda karena memang didisain untuk dicantolkan pada kerangka sepeda. Dan tak jarang saya melihat sepeda yang diparkir menyandang tas sejenis dengan berbagai bentuk dan desain tanpa mengundang perhatian orang untuk menilik lebih dalam apa gerangan isinya. Analsia saya, dari sisi soal kelaziman, tas tidak akan mencuri perhatian orang lalu lalang. Ini artinya, apa2 yang ada di dalamnya akan aman termasuk laptop. Itu kesimpulan prematur saya soal laptop dalam tas sepeda yang diparkirkan di ruang terbuka.

Pikiran jernih itu ternyata memancing otak saya bekerja lebih terarah dan positif. Di taman tadi, karena sepi saya langsung menepi. Memindahkan laptop dari tas punggung ke tas sepeda. Untuk memperkuat ikhtiar mengahdirkan keadaan aman bagi laptop, saya bungkus laptop dengan benda2 apa saja yang kebetulan tersedia dalam tas sepeda. Aman, insyaAllah! Tas laptop sudah nangkring aman karena dibalut penutup tas anti air. Melihat penempilan laptop kini, jikapun ada orang iseng dengan sengaja membuka tas sepeda saya. Maka ia tidak akan menyangka jika ada laptop di dalamnya. Karena sudah merasa yakin, saya memutar arah sepeda dan kembali menuju keduataan. Bismillah. Hamba titipkan pada Mu ya Allah. Semua adalah milik Mu dan kepada Mu saya sebaik2nya hamba menitipkannya saat jangkauan ini tak lagi bisa memastikkannya aman terjaga.

Baru kemudian setelah berada di dalam ruang tunggu pembuatan visa, sembari duduk santai sesekali saya melihat ke arah parkiran sepeda yang tak sepenuhnya bisa dijangkau dalam pandangan saya. Saya baru ngeh dengan kesimpulan lain yang membuat saya semakin yakin dan tenang saat laptop beristirahat di dalam tas sepeda. apa gerangan? setidaknya ada 2:1) Denmark terbilang negara dengan tingkat kriminalitas rendah di ruang publiknya. Mungkin kebanyakan orang fokus dengan urusannya masing2 sehingga tak lagi memiliki waktu tersisa untuk mencampuri urusan orang lain. apalagi dengan sengaja meluangkan waktu hanya sekedar untuk mengecek isi tas sepeda orang lain. 2) You know guys! Aye memarkir sepeda di laman kedutaan negara paling “waspada” terhadap lingkungannya. Ini bahasa sederhananya untuk istilah “phobia”. Dengan demikian, AS selalu menerapkan sekuritas kelas wahid untuk seluruh hal terkait dengan urusannya. Nah, halaman kedutaan kira-kira penting gak bagi mereka? Pinter! pastilah. Mereka akan sebar “satpam” mereka untuk terus bergerak mondar-mandir memantau situasi luar gedung. Dan, mantab, termasuk halaman depan di mana parkir sepeda ditempatkan. Terlebih tadi atas izin Allah, saya juga serapi mungkin memilih arah, lokasi dan posisi sepeda agar secara gak langsung berada dalam pengawasan sekuriti.

Alhamdulillah. saya mengucapkan rasa syukur tak terperi atas ide cerdas yang Maha Cerdas izinkan hadir dalam otak saya sedari menemukan adanya problem seputar laptop tadi. MasyaAllah tak tanggung-tanggung, laptop saya dijaga oleh sekuriti kelas satu kedutaan AS di Denmark. Tak perlu jauh-jauh mengayuh sepeda dan membuang waktu. Allah izinkan saya kembali ke kedutaan kurang dari 30 menit dalam rangka mencari solusi penitipan laptop yang terasa tak mungkin tadi.

Nikmat Allah Azza wa Jalla tak berhenti soal amannya konsep penyimpanan laptop saya. Dikabulkannya pengajuan visa AS saya menjadi penutup cerita Kesempurnaan kuasa Allah di pagi menuju siang kala itu.

Subhanallah walhamdulillah….lantas mengapa harus khwatir jika ikhtira sudah dilakukan. Serahkan semua pada pemilik semua dan InsyaAllah, Dia akan berikan yang paling baik itu kita.

Demikian Sobat, semoga kita mampu mengambil pelajaran dari cerita sederhana ini.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s