Ini eksperimen bareng Supervisor, atau teman sendiri?

 

Hari ini sesuai dengan rencana yang sudah dibicarakan dua minggu yang lalu, saya akan melakukan “debut” isolasi protoplas di bawah supervisi prof. Bodil secara langsung. Jika diingat-ingat beberapa minggu terakhir saya ada 2 atau sekali kesempatan bekerja sama dengan beliau di dalam Lab. Saya berusaha mengingat, jika tidak salah…hmmm (buka logbook dulu :)). Yup..tepatnya sekali dan itu terjadi pada tanggal 13 bulan ini. Kami sudah menunaikan janji untuk ketemu dalam rangka pengenalan lokasi bahan dan alat yang akan saya gunakan dalam riset kelak. Kesan saya dari bekerja sama dengan beliau kali pertamanya itu cukup baik. Justru saya yang merasa tidak enakan karena muncul 15 menit lebih lambat dari jadwal yang sudah ditentukan. Meskipun sudah memberikan informasi lebih awal prihal keterlambatan dan beliau ok-ok saja. Tetap saja ada perasaan tidak enak dan rasa bersalah yang tertinggal lepas pertemuan itu dilakukan.

Saya langsung terburu-buru menyiapkan diri sesaat tiba di kantor sebagai bentuk komunikasi non verbal yang ingin saya tampakkan ke beliau atas menyesalnya datang terlambat dengan atau tanpa alasan kala itu. Justru komen yang saya dengar dari beliau justru hanya:

Calm down and take your time

benar-benar itu saja kata-kata yang saya dengar dari beliau dan  tak ada komen panjang lainnya setelah itu. Tak da kalimat bersifat investigasi dan penghakiman. Saya malah makin keki dan merasa tidak enakkan saja dengan sikap beliau itu.

Untuk menebus kesalahan berupa keterlambatan di pertemuan pertama dan karena saya menilai kerja real experiment itu sangat penting, maka kali ini saya dengan segala kesadaran berusaha untuk datang lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Dan saya berhasil merealisasikan tekad tersebut. Saya sampai kantor pukul 8.00 pagi. Satu jam lebih awal adalah baik untuk mempersiapkan hal-hal teknis terkait penelitian misalnya saja soal menyalakan Meja Laminar yang harus dilakukan minimal 30 menit sebelum waktu pemakaiannya. Saya memastikan semua alat dan bahan sudah diambil dari lokasi penyimanannya untuk merapat ke ruangan D111 di mana lokasi Laminar berada. Dengan cara ini saya merasa puas dan percaya sudah memulai tahap pertama penelitian dengan baik (InsyaAllah). Saat jam dinding menunjukkan 15 menit menuju pukul 9. Prof. Bodil baru saja memasuki pintu gerbang bagian kami dan kami secara reflek berebut menjadi orang pertama yang memberi salam

“Good morning!” (dengan nada suara ceria dan penuh energi tentunya!)

Setelah terlibat obrolan singkat di dapur seputar persiapan “debut” sembari prof. Bodil menyiapkan secangkir kopi hangat untuk dirinya memulai pagi Rabu yang tak terlalu terik ini. kami kemudian berpisah ke ruangan masing2 dan bersepakat akan saling bertemu tepat pukul 9 pagi.

“I will come to your office when i am done with this cup of coffee” tutup Prof. Bodil saat kami berpisah.

Saya berfikir sejenak saat sudah berada di depan layar besar hp compaq saeorang diri di kantor

“saya tak akan biarkan prof. Bodil berjalan jauh menuju kantor saya untuk sekedar memberi tahu bahwa beliau siap memulai aktivitas eksperimen. Bukan apa2, ruangan kantor prof. Bodil itu berada tepat di tengah-tengah antara ruang D111 dan kantor saya yang bernomor 127 berada di sisi ujung yang lain lorong bagian kami. Jadi jika beliau jalan ke kantor saya bukan merupakan jalur sambilan beliau dalam rangka bergerak ke ruang D111 yang merupakan titik dimana kami  akan bertemu. Serasa kurang sopan dan mengerjai Prof. nih kalo sampai beliau benar-benar muncul di depan pintu ruangan kerja saya hanya untuk memanggil “Jaya, saya sudah siap :)”. tidak akan saya biarkan”

Lalu saya memasang strategi berupa membiarkan pintu kantor terbuka dengan harapan saat Prof. Bodil berjalan keluar dari kantornya menuju tempat saya, suara ketukan sepatu kerjanya pada lantai lorong bisa langsung saya dengar dan ini menjadi tanda untuk saya segera bergerak dan keluar ruangan serta lagsung memberi kode lambaian tangan bermakna saya siap dan akan segera mengahampiri anda. Alhamdulillah, cara ini super berhasil: beliau mengerti dan memutuskan diri untuk berhenti menunggu kehadiran saya tak jauh dari pintu kantornya.

***

Tahap-tahap awal isolasi protoplas berjalan lancar dan beliau behasil mendemonstrasikan dengan sangat baik di hadapan saya. Ngomong-ngomong soal isolasi protoplas, saya jadi ingat beberapa kolega nih yang melakukan aktivitas yang sama saat kami masih di jejang s1 dahulu. Kesan yang saya tangkap dari cerita teman sekelas tersebut: isolasi protoplas itu cukup menantang! (mungkin karena beliau harus belajar dan menguji metode secara mandiri plus keterbatasan alat penunjang) kesan ini bertolak belakang secara ekstrim ketika saya pertama kali mengamati prosesnya secara keseluruhan selam tiga hari. Pengalaman nonton proses isolasi protoplas kala itu terjadi di awal-awalnya saya bergabung dengan bagian Glycobiologi. Seorang peneliti senior di grup kami: Elisabeth melakukan kerjaan rutin isolasi protoplasnya dan saya bernasib baik diajak serta untuk menjadi pengamat. Beliau menyelesaikannya dengan sangat baik akibatnya memunculkan kesan bahwa isolasi protoplas itu sederhana dalam benak saya. Kesan itu makin menguat ketika ditambah dengan hasil foto protoplast hidup yang kami dapat sangat menakjubkan di bawah mikroskop flouresen.

Kembali ke cerita sepervisi dengan prof. Bodil! Setelah bagian yang harus beliau lakukan secara langsung selesai. Kini tiba masanya kami harus mengambil tanaman kentang yang ditumbuhkan dan dipelihara mengunakan metode kultur jaringan (bahasa sederhananya: tanaman ditanam dalam tabung kaca atau plastik bermedia tanam berupa agar khusus). kejadian menarik terjadi di titik ini! Selesai mengerjakan bagiannya di dalam meja steril, Prof. Bodil meminta saya untuk mengembalikan beberapa larutan vitamin ke dalam kotak penyimpanannya di freezer yang berlokasi di ruangan sebelah. Sekembali saya dari ruangan sebelah, prof. Bodil sudah tidak ada di ruangan D111. Saya mencoba menemukan dimana gerangan beliau berada. Saya mengecek kantornya, Nihil. Saya melirik jam dinding, belum menunjukkan waktunya makan siang. Seingat saya prof. Bodil tidak berbicara apa-apa dan ini menandakan mustahil jika tiba-tiba proses supervisi selesai. Lalu saya baru ingat, bahwa tahap selanjutnya dari proses isolasi protoplas ini adalah memanen daun tanaman. Padahal dari sejak pagi, tanaman yang akan digunakan pada penelitian ini masih tesimpan di ruangan kultur yang belokasi di lantai bawah tanah gedung kampus. Bagian kami berada di lantai 1 dan ruang kultur berada di lantai K. Kami harus turun sebanyak kurang lebih 4 tingkat dan menyusuri lorong bergaya lay out ruangan dan lorong di rumah sakit untuk menuju ruang kultur. Dan tetiba nalar saya membisikan saya bahwa pasti beliau pergi ke ruang kultur sendiri untuk mengambil 3 botol tanaman yang akan kami gunakan. Saya bergegas cepat berusaha menyusul. beberapa menit menyusuri lorong tak saya temukan tanda-tanda bekas prof. Bodil melintas. bahkan di beberapa bagian lorong lampu baru terlihat mulai kembali menyala karena sensor gerak penyalanya menangkap sinyal dari gerakan yang lsaya akukan untuk berjalan (kok scene ini jadi kayak cerita horor ya?) Dan benar saja, saat saya sampai di ruang kultur milik bagian kami Prof. Bodil sudah ada di sana terlihat sibuk memilih tabung2 kultur yang akan dipilih untuk dibawa ke meja Laminar.

Dari potongan cerita ini apa yang amat berkesan buat saya?

Saya tidak sampai kepikiran, seorang prof, kepala bagian mau-maunya mengambil sendiri bahan tanaman ke ruang kultur padahal penelitian yang sedang dia lakukan hanya bersifat trial supervisi untuk anak bimbingannya yang bergabung ke labnya juga baru hitungan minggu. Logika sederhananya dan wajar-wajar saja akan terjadi adalah mengapa beliau tidak memerintahkan saya seorang diri mengambil langsung tanaman tersebut? apakah beliau takut saya tidak tahu? saya rasa tidak juga! Tanggal 13 atau 6 hari yang lalu kami sudah mengunjungi ruang kultur secara bersama-sama. beliau juga sudah menunjukkan dengan jelas grup tanaman kultur jaringan mana yang kelak akan kami pakai untuk penelitian uji coba pertama saya pada hari itu. Atau pilihan kedua, beliau mengajak saya untuk turun bersama-sama guna mengambil tanaman yang akan kami gunakan di ruangan kultur.

Duh, jujur! saya jadi kehilangan kata-kata! ini saya sedang kerja dengan pembimbing utama saya atau dengan seorang teman atau  malah junior saya? dari kejadian ini dan beberapa pengalaman sebelumnya bekerja sama dengan beliau saya bisa menyimpulkan bahwa prof. Bodil memiliki jiwa melayani untuk memberikan kemudahan kepada orang lain yang sangat dominan.

Semoga kesan pertama ini menjadi pertanda baik untuk cerita PhD saya selanjutnya.

Semoga penelitian yang kami lakukan juga memiliki manfaat untuk kemudahan khalayak luas nantinya. Aamiin.

FRB 170719. 12: 38 PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s